PENDAHULUAN ARLINDO merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem termohaline circulation dunia dan berpengaruh besar pada dinamika yang terjadi baik di Samudera Pasifik maupun Samudera Hindia (Sprintall et. al., 2003). ARLINDO sendiri memasuki perairan Indonesia dari Samudera Pasifik melalui lapisan termoklin (Hautala,1996). Selat Lombok dan Ombai merupakan pintu- pintu keluar ARLINDO dari perairan Indonesia menuju Samudera Hindia. Pengetahuan tentang variabilitas parameter oseanografi pada perairan lintasan ARLINDO sangat diperlukan untuk mempelajari karakteristik dan dinamika massa air.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabilitas massa air di lapisan termoklin Selat Lombok dan Ombai dengan menganalisis perubahan suhu dan salinitas.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan bagian dari program INSTANT (International Stratification and Transport). Pengambilan data dilakukan di Selat Lombok dengan koordinat 1150 45. 487’ BT dan -080 24. 566’ LS pada tanggal 15 Juni 2005 dan di Selat Ombai dengan koordinat 12500 24.044’ LS pada tanggal 29 Juni 2005. Data yang digunakan adalah data deret waktu suhu, salinitas, dan tekanan selang waktu 1 jam periode Januari 2004-Juni 2005 pada kedalaman termoklin yaitu pada kedalaman 200 m, 300 m, 400 m, dan 500 m. Termoklin di tropis bisa mencapai hingga kedalaman 600 m (Ilahude,1999). Selain data deret waktu dari mooring digunakan pula data dari CTD. Pengolahan data deret waktu dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2006 dengan menggunakan software Matlab 7 untuk mencari variasi temporal, spektrum densitas energi dan korelasi silang. Pengolahan data data CTD dengan menggunakan ODV ver 3.0 untuk mencari sebaran vertikal. 02.268’ BT dan -08.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Selat Lombok
Variasi temporal Selat Lombok menunjukkan adanya stratifikasi suhu yang jelas dimana suhu berkurang seiring kedalaman. Suhu maksimum ditemukan pada kedalaman 200 m pada bulan Juni 2004 (awal musim timur) sebesar 15,703 0C. Suhu minimum ditemukan pada kedalaman 500 m pada musim peralihan II (September 2004) sebesar 10,575 0C. Berdasarkan Gambar 1. diketahui di Selat Lombok hampir pada setiap kedalaman memiliki pola suhu yang hampir sama, yaitu suhu menjadi lebih tinggi pada musim barat dan timur dan suhu menurun pada musim peralihan. Suhu memiliki kecenderungan akan naik mulai bulan April 2004 kemudian akan stabil hingga mencapai maksimum di bulan Juni 2004. Setelah itu trend suhu akan menurun hingga bulan September suhu mencapai minimum. Penurunan suhu selama musim Timur ini dikarenakan adanya pengaruh ARLINDO yang besar. Suhu memiliki kecenderungan naik kembali hingga bulan Januari 2005 mencapai titik maksimal lagi, kemudian trend suhu kembali menurun dan stabil pada bulan April 2005. Hal ini menunjukkan di Selat Lombok didominasi variasi semiannual dan sedikit sinyal annual (tahunan) (Sprintall et al., 2003).
Pola yang sedikit berbeda ditemukan pada kedalaman 300 m dimana suhu mengalami kecenderungan (trend) menurun seiring perubahan waktu. Hal ini diduga karena pengaruh dari Sill yang berada pada kedalaman ~300 m (Hautala et al., 1996).

Variasi secara temporal salinitas Selat Lombok menunjukkan bahwa salinitas maksimum ditemukan di kedalaman 200 m sebesar 34, 916 pada bulan Maret 2004 (musim peralihan I) dan salinitas minimum ditemukan di kedalaman 500 m sebesar 34,753 pada bulan November 2004 (musim peralihan II). Berdasarkan diagram T-S Selat Lombok diketahui adanya salinitas maksimum yang merupakan sisa-sisa massaNorthern Subtropical Lower Water (NSLW) (wyrtki,1961). Massa air salinitas minimum yang merupakan massa air Northern Pacific Intermediate Water (NPIW) (Wyrtki,1961). Spektrum densitas energi suhu Selat Lombok periode januari 2004 – Juni 2005 (Gambar 2.) menunjukkan secara konsisten pada semua kedalaman (200 m, 300 m, 400 m dan 500m) ditemukan adanya sinyal suhu yang mendominasi adalah sinyal yang berkisar antara 7,9-8,7 bulan yang diperkirakan dipengaruhi oleh instabilitas barotropik wind-driven gyres di Samudera Hindia. Ditemukan pula siklus pasang surut 2 mingguan (fortnighly) yang berkisar antara 12-14,9 hari.dan sinyal Madden Julian Oscillation yang berkisar antara 2- 3,5 bulan. Hal ini sesuai dengan variasi suhu Selat Lombok secara temporal dimana sinyal-sinyal ini pun terlihat dengan jelas. Periode spektrum densitas yang mendominasi adalah (7,9-8,6 bulan) dapat terjadi kemungkinan karena adanya instabilitas barotropik yang terjadi di Samudera Hindia (Pariwono, 2007, komunikasi pribadi). Sinyal salinitas Selat Lombok yang berpengaruh adalah sinyal fortnighly ( 14,6-14,9 hari). Lalu diikuti oleh sinyal bulanan ( 27-27,75 hari). Sinyal lain yang ditemukan adalah sinyal yang kemungkinan dipengaruhi instabilitas barotropik wind driven gyres di Samudera Hindia berkisar antara 7,7-8,5 bulan.

2. Selat Ombai
Gambar 3. menampilkan variasi suhu secara temporal di Selat Ombai. Variasi suhu maksimum 13,516 0C dan suhu minimum 10,544 0C. Suhu memiliki kecenderungan (trend) menaik hingga mencapai maksimum pada bulan Mei 2004 dan terus memiliki kecenderungan menurun hingga mencapai suhu minimum pada bulan Agustus 2004. Trend suhu kemudian menaik kembali hingga bulan Desember 2004 kemudian selama musim barat trend suhu menurun. Trend suhu kembali menaik hingga ke bulan Juni 2005. Variasi temporal salinitas Selat Ombai pada kedalaman 300 m berkisar 34,865 maksimum ditemukan pada bulan Mei 2004 34,802 pada bulan Oktober 2004. Berdasarkan diagram T-S Selat Lombok diketahui adanya salinitas maksimum yang merupakan sisa-sisa massa air Northern Subtropical Lower Water Massa air salinitas minimum yang merupakan massa air Northern Pacific Intermediate Water (NPIW) (Wyrtki,1961). Sinyal spektral densitas suhu (Gambar 4.) yang ditemukan di Selat Ombai pun sesuai dengan variasi suhu secara temporal Selat Ombai dimana ditemukan adanya pengaruh semi tahunan (5,8 bulan), Madden Julian Oscillation (2-3 bulan) dan fortnightly (14,6-14,7 hari). Spektrum densitas energi salinitas di Selat Ombai periode Januari 2004 – Juni 2005 yang mendominasi adalah sinyal fortnighly (14,8 hari). Sinyal lain adalah sinyal semi tahunan (5,8 bulan), sinyal bulanan ( 27,3 hari ), sinyal Madden Julian Oscillation pada sinyal 2,9 bulan. (NSLW) (wyrtki,1961).

3. Selat Lombok-Ombai
Rata-rata suhu Selat Lombok lebih hangat daripada Selat Ombai. Selat Lombok memiliki suhu rata-rata 12,310 0C di kedalaman 300 m dan 11,364 0C pada kedalaman 400 m. Rata-rata suhu Selat Ombai adalah 12,148 0C pada kedalaman 300 m dan 11,249 0C pada kedalaman 400 m. .
Pada musim barat (Desember-Januari-Februari) dan musim timur (Juni-Juli-Agustus) baik di Selat Lombok dan Selat Ombai terjadi kecenderungan penurunan suhu. Hal ini berarti menunjukan adanya pengaruh musiman. Penurunan ini diduga terjadi karena adanya pengaruh dari ARLINDO yang besar sehinggga menurunkan suhu. Sinyal semiannual mendominasi variabilitas suhu sepanjang tahun Selat Lombok. Suhu maksimum Selat Lombok ditemukan pada bulan Juni 2004 (awal musim timur), sedangkan di Selat Ombai ditemukan pada bulan Mei 2004 (akhir musim Peralihan I). Hal ini diduga terjadi karena sinyal semiannual ini terjadi karena adanya gelombang kelvin yang dibangkitkan oleh angin di daerah khatulistiwa Samudera Hindia sepanjang musim transisi (April-Mei) ( Sprintall et al., 2003)
Nilai salinitas di Selat Lombok dan Selat Ombai mengalami penurunan terhadap kedalaman. Hal ini terjadi dimungkinkan karena adanya perubahan massa air ARLINDO yang masuk ke Selat Lombok dan terjadi sepanjang tahun (Makarim, 2006). Secara umum adanya kemiripan dalam pola fluktuatif salinitas dimana adanya pengaruh 2 mingguan yang besar. Salinitas Selat Ombai lebih tawar daripada Selat Lombok Rata-rata salinitas Selat Ombai sebesar 34,859, sedangkan Selat Lombok adalah 34,866. Demikian pula pada kedalaman 400 m nilai rata-rata salinitas Selat Ombai sebesar 34,813 dan Selat Lombok 34,821.
Korelasi silang suhu pada kedalaman 300 m Musim Barat 2004 menunjukkan suhu di Selat Lombok mencapai puncak dan setelah 10 hari kemudian suhu di Selat Ombai baru berubah. Akan tetapi, pada musim barat tahun 2005 menunjukkan arah yang berbeda. Suhu Selat Lombok mencapai puncak setelah 20,5 hari Selat Ombai mencapai puncak. Musim Peralihan I tahun 2004 menunjukkan bahwa setelah suhu di Selat Ombai berubah maka 2,6 hari kemudian suhu di Lombok baru berubah. Arah yang sama pun ditunjukkan pada musim peralihan I 2005. Suhu berubah terlebih dahulu di Selat Ombai dan 7,2 hari kemudian suhu Lombok berubah. Musim Timur 2004 korelasi antara Selat Lombok dan Ombai menunjukkan bahwa selisih waktu mencapai puncak berbeda 6 jam dimana suhu di Ombai terlebih dahulu mencapai puncak lalu diikuti oleh suhu di Lombok. Musim peralihan II 2004 menunjukkan puncak suhu terlebih dahulu di Selat Lombok baru kemudian bergerak ke Ombai selama 115 jam.
Korelasi silang antara suhu Selat Lombok dan Ombai pada kedalaman 400 m. Musim barat 2004 menunjukkan suhu Selat Lombok mencapai puncak terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Selat Ombai pada 10,2 hari kemudian. Hal yang berbeda ditemukan pada musim barat 2005. Korelasi mencapai maksimal terlebih dahulu di Selat Ombai kemudian baru bergerak ke Selat Ombai selama 105 jam. Musim peralihan I 2004 dan 2005 pun memiliki perbedaan dalam arah dan besar lags korelasi silangnya. Musim peralihan I 2004 suhu mencapai puncak di Selat Lombok dan 46,8 hari kemudian Selat Ombai baru mencapai puncak. Namun, di musim Peralihan I 2005 justru terjadi hal sebaliknya. Suhu mencapai puncak di Selat Ombai dan 6,6 hari kemudian baru Selat Lombok mencapai puncak. Musim timur 2004 menunjukkan bahwa suhu mencapai puncak ada kemungkinan pada saat yang bersamaan dan ada kemungkinan juga suhu mencapai puncak terlebih dahulu di Selat Ombai baru 1-12 jam kemudian di Selat Lombok mencapai puncak. Musim peralihan II 2004 menunjukkan bahwa suhu mencapai puncak terlebih dahulu di Selat Lombok dan 10,8 hari kemudian suhu Selat Ombai mencapai puncak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Variabilitas massa air Selat Lombok dan Selat Ombai memiliki stratifikasi suhu yang jelas. Rata-rata suhu Selat Lombok lebih hangat daripada Selat Ombai. Variabilitas suhu pada kedalaman 300 m lebih besar Selat Lombok sebesar. Kedalaman 400 m variabilitas Selat Ombai lebih besar. Salinitas Selat Ombai lebih tawar daripada selat Lombok Variabilitas lebih besar ditemukan di Selat Lombok dibandingkan Selat Ombai. Hal ini berarti bahwa perubahan ini dikarenakan adanya pengaruh lokal yang berbeda dan dinamika selat Lombok lebih kompleks.
Berdasarkan analisis spektral (Spektrum Densitas Energi), spektrum suhu yang dominan di Selat Lombok adalah sinyal 8,7 bulan yang kemungkinan dipengaruhi oleh instabilitas barotropik di Samudera Hindia(Pariwono, 2007, komunikasi pribadi). Spektrum suhu dominan di Selat Ombai adalah pengaruh semi tahunan. Sinyal salinitas yang mendominasi baik di Selat Lombok maupun Ombai adalah sinyal pasang surut 2 mingguan (fortnightly). Massa air ARLINDO diindikasikan ada di perairan Selat Lombok dan Ombai karena ditemukannya massa air NSLW dan NPIW.
Saran
Untuk mengetahui lebih lanjut dari variabilitas massa air perlu adanya data time series yang lebih panjang lagi. Dengan demikian variabilitas massa air lebih bisa dianalisis faktor yang mempengaruhinya, baik itu pengaruh musiman atau pengaruh interseasonal (tahunan). Selain itu, agar lebih mewakili karakteristik perairan data yang digunakan, dibutuhkan data yang lebih pendek jarak antar sensornya.
DAFTAR PUSTAKA
Hautala, S.L., J.L. Reid, dan N. Bray. 1996. The Distribution and Mixing of Pasific Water masses in the Indonesian Seas. J. Geophys Res. 101(C5): 12.375-12.390
Ilahude, A.G. 1999. Pengantar ke Oseanologi Fisika. P3O-LIPI. Jakarta
INSTANT. 2006. Ekspedisi INSTANT 2003-2005: Menguak Arus Lintas Indonesia. Pusrit Wilayah Laut & Sumberdaya Non-hayati. BRKP- DKP
Sprintall, J., J.T. Potemra, S.L. Hautala, N.A. Bray dan W.W. Pandoe. 2003. Temperature and Salinity Variability in the Exit Passages of the Indonesian Throughflow. Deep Sea Research II
Wyrtki, K. 1961. Physichal Oceanography of Southeast Asian Waters. Naga Report. Vol 2. Scripps Insitution of Oceanography. The university of California. La Jolla. California
Penulis
Muhammad Iqbal Abdul Ra'uf, S.Pi. Penulis dilahirkan pada tanggal 7 Agustus 1984 di Garut Jawa Barat dan telah menyelesaikan pendidikan Strata I di Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu Kelautan.
