Anda Berada Di Home

ilmukelautan.com

Potensi Ekowisata Pulau Kapoposang

Ketika mendengar nama Pulau Kapoposang, tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para penggiat olahraga selam (diving) di Sulawesi Selatan. Bagi kalangan penyelam profesional yang biasa melakukan aktivitasnya di Kepulauan Spermonde yang dahulu bernama Kepulauan Sangkarang, Pulau Kapoposang menjanjikan pemandangan pesona bawah air yang tidak ada duanya di Kepulauan Spermonde.

Berbagai jenis karang keras, karang lunak, ikan karang dan hewan-hewan invertebrate yang menjadi penghuni bawah air Pulau Kapoposang mewakili hampir seluruh spesies yang ada di Sulawesi Selatan. Ditunjang dengan bentuk profil terumbu karang berupa dinding karang (wall) dengan kedalaman mencapai ratusan meter adalah daya tarik tersendiri bagi penyelam professional yang ingin melakukan penyelaman dalam (Deep Dive).
Potensi Ekowisata Pulau Kapoposang

Ketika mendengar nama Pulau Kapoposang, tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para penggiat olahraga selam (diving) di Sulawesi Selatan. Bagi kalangan penyelam profesional yang biasa melakukan aktivitasnya di Kepulauan Spermonde yang dahulu bernama Kepulauan Sangkarang, Pulau Kapoposang menjanjikan pemandangan pesona bawah air yang tidak ada duanya di Kepulauan Spermonde.

Berbagai jenis karang keras, karang lunak, ikan karang dan hewan-hewan invertebrate yang menjadi penghuni bawah air Pulau Kapoposang mewakili hampir seluruh spesies yang ada di Sulawesi Selatan. Ditunjang dengan bentuk profil terumbu karang berupa dinding karang (wall) dengan kedalaman mencapai ratusan meter adalah daya tarik tersendiri bagi penyelam professional yang ingin melakukan penyelaman dalam (Deep Dive).

Paparan terumbu karang cukup luas mengelilingi Pulau Kapoposang dan memanjang ke arah barat. Berdasarkan hasil perhitungan peta tematik Pulau Kapoposang, didapatkan total luas reef flat adalah sebesar 1.156 Ha,dengan kondisi terumbu karang yang relatif masih baik, khususnya di rataan terumbu di sisi barat laut. Tutupan karang hidup di daerah reef edge cukup tinggi yakni rata‐rata 54% dari total tutupan makrobentik di rataan terumbu. Sedangkan di daerah reef top penutupan karang hidupnya hanya 28%. Pada sisi selatan pulau terlihat adanya cekungan‐cekungan hancuran karang berdiameter 2 hingga 3 meter bekas aktifitas penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan di masa lalu. Walaupun kondisi terumbu umumnya relatif baik, namun persentase karang mati (DC) dan karang mati yang tertutup alga (DCA) masih relatif tinggi (27%).

 

Bagi yang belum mengetahui Pulau Kapoposang, Pulau ini merupakan salah satu dari enam pulau yang masuk ke dalam Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang yang saat ini di bawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang- Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Secara administratif berada dalam wilayah Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan,  dengan luasan sebesar 50. 000 hektar dan memiliki panjang batas 103 km. Posisi geografis kawasan ini berada di 118o  54’ 00 BT – 119o 10’ 00’’ BT dan 04o37’00’’ LS – 04o 52’ 00’’ LS.  Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang terdiri atas tiga pulau berpenghuni yaitu Pulau Kapoposang, Pulau Papandangan, dan Pulau Gondong Bali. Selain itu juga memiliki tiga pulau kecil berpasir putih yang tidak berpenghuni yaitu Pulau Suranti, Pulau Pamanggangang, dan Pulau Tambakhulu.

Sebagai destinasi wisata bahari andalan di Provinsi Sulawesi Selatan, Pulau Kapoposang mempunyai potensi pesona bawah air yang sangat memanjakan mata para pengunjung dan siap untuk dieksplore di Pulau ini. Ada beberapa titik andalan bagi para penyelam yang ingin menikmati pesona bawah air Pulau Kapoposang antara lain Titik Penyelaman Gua (Cave Point), Titik Hiu (Shark Point), dan Titik Penyelaman Penyu (Turtle Point). Khusus mengenai titik penyu (turtle point) Pulau Kapoposang memiliki satu titik khusus yang merupakan habitat alami bagi Penyu Sisik (Erethmochelys imbricata). Penyu Sisik di Pulau Kapoposang sangat jinak karena jarang di ganggu oleh masyarakat sekitar, jika di tempat lain wisatawan hanya dapat melihat penyu di darat, maka di tempat ini anda dapat berenang, berfoto, bahkan anda dapat menyentuh langsung penyu sisik di dalam laut. untuk bertemu dengan spesies unik ini, anda cukup melakukan penyelaman selama kurang lebih satu setangah jam di titik ini dan menyelam sejauh kurang lebih 500 meter maka anda dapat menyaksikan puluhan penyu sisik berbagai ukuran berenang bebas di antara keindahan terumbu karang. Terkadang penyu sisik juga dapat ditemukan sedang beristirahat diantara gua-gua (cave) di dinding (wall) karang.
Beberapa lokasi di Pulau Kapoposang teridentifikasi sebagai daerah tempat bertelur bagi Penyu Sisik, dari Bulan Desember-April merupakan musim bertelur bagi spesies ini. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada upaya-upaya penangkarang Penyu dari instansi terkait, penangkaran penyu di tempat ini sangat diperlukan untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan. Mengingat spesies ini sangat rentan terhadap gangguan, baik itu dari manusia maupun dari predator.
Penulis



Ilham, S. Kel
Conservation Officer TWP Kapoposang
email : ilham.mahmuda[at]yahoo.co.id

 

 

Pola Umum Angin di Indonesia

Di daerah tropis akan terjadi angin dari daerah maksimum subtropis ke daerah minimum equator. Angin ini disebut angin passat timur laut di belahan bumi utara dan angin passat tenggara di belahan bumi selatan. Angin passat banyak membawa uap air karena berhembus di laut lepas. Akan  tetapi  pada beberapa wilayah dipermukaan bumi angin passat tersebut mengalami perubahan arah akibat pengaruh lingkungan setempat. Di Indonesia yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam  bulan berada di utara dan enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin passat tersebut mengalami perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur( Wyrtki, 1987). Di daerah khatulistiwa Samudera Pasifik, Angin Pasat Tenggara berhembus secara normal sepanjang tahun. Angin Pasat mengakibatkan massa air yang hangat di bagian Timur Samudera Pasifik bergerak menuju perairan Timur Indonesia. Pergerakan massa air tersebut semakin bekurang pada beberapa bagian dari Laut Indonesia. Hal yang sama ditunjukkan pada saat angin berhembus pada daerah khatulistiwa selama periode pancaroba. Hal ini mengakibatkan daerah Kepulauan Indonesia yang terletak antara samudera hindia bagian Timur dengan Samudera Pasifik bagian Barat menyumbangkan tempat penyimpana bahang (heat) terbesar dalam lautan dunia. Di dalam dan sekeliling Indonesia ini didapatkan suhu permukaan laut yang tinggi (>28º C). Suhu yang tinggi tersebut akan mempengaruhi pertukaran bahang dan mengatur interaksi antara atmosfer dan lautanyang akan berakibat beasar tehadap cuaca lokal Kepulauan Indonesia dan dunia.
Angin Pasat Tenggara yang muncul terus menerus sepanjang tahun mengakibatkan permukaan laut sepanjang pantai Mindanao- Halmahera- Irian Jaya di Samudera Pasifik bagian Barat lebih tinggi daripada permukaan laut sepanjang pantai Sumatera - Jawa – Sumbawa di Samudera Hindia bagian Timur. Akibat adanya gradien tekanan yang disebakan oleh perbedaan tinggi permukaan laut, sejumlah massa air Samudera Pasifik akan mengalir ke Samudera Hindia (Wyrtki, 1987 )
Pola angin yang sangat berperan di Indonesia adalah Angin Muson, hal ini disebakan karena Indonesia teletak diantara Benua Asia dan Australia diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Menurut Wyrtki (1961), keadaan musim di Indonesia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1.Musim barat (Desember – April)
Pada musim Barat pusat tekanan udara tinggi berekembang diatas benua Asia dan pusat tekanan udara rendah terjadi diatas benua Australia sehingga angin berhembus dari barat laut menuju Tenggara. Di Pulau Jawa angin ini dikenal sebagai Angin Muson Barat Laut. Musim Barat umumnya membawa curah hujan yang tinggi di Pulau Jawa. Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober - April, matahari berada di belahan bumi selatan, mengakibatkan belahan bumi selatan khususnya Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di Asia yang mulai ditinggalkan matahari temperaturnya rendah dan tekanan udaranya tinggi (maksimum).
Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke benua Australia sebagai angin muson barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan tentunya banyak membawa uap air dan setelah sampai di kepulauan Indonesia turunlah
hujan. Setiap bulan November, Desember, dan Januari Indonesia bagian barat sedang mengalami musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi.
2. Musim Timur (April - Oktober)
Pada musim Timur pusat tekanan udara rendah yang terjadi diatas Benua Asia dan pusat tekanan udara tinggi diatas Benua Australia menyebabkan angin behembu dari Tenggara menuju Barat Laut. Di Pulau Jawa bertiup Angin Muson Tenggara. Selama musim Timur, Pulau Jawa biasanya mengalami kekeringan. Angin muson timur berhembus setiap bulan April - Oktober, ketika matahari mulai bergeser ke belahan bumi utara. Di belahan bumi utara khususnya benua Asia temperaturnya tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di benua Australia yang telah ditinggalkan matahari, temperaturnya rendah dan tekanan udara tinggi (maksimum). Terjadilah pergerakan angin dari benua Australia ke benua Asia melalui Indonesia sebagai angin muson timur. Angin ini tidak banyak menurunkan hujan, karena hanya melewati laut kecil dan jalur sempit seperti Laut Timor, Laut Arafuru, dan bagian selatan Irian Jaya, serta Kepulauan Nusa Tenggara. Oleh sebab itu, di Indonesia sering menyebutnya sebagai musim kemarau.
Di antara kedua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau terdapat musim lain yang disebut Musim Pancaroba (Peralihan). Peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau disebut musim kemareng, sedangkan peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan disebut musim labuh. Adapun ciri-ciri musim pancaroba (peralihan), yaitu antara lain udara terasa panas, arah angin tidak teratur, sering terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat dan lebat.
3. Musim Peralihan (Maret – Mei dan September – November)
Periode Maret – Mei dikenal seagai musim Peralihan I atau Muson pancaroba awal tahun, sedangkan periode Septemer – November disebt musim peralihan II atau musim pancaroba akhir tahun. Pada musim-musim Peralihan, matahari bergerak melintasi khatulistiwa, sehingga angin menjadi lemah dan arahnya tidak menentu. 
4.Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini bertiup setiap hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin gunung.
Angin lokal dapat di jelaskan sebagai berikut :
1. Angin Darat dan Angin Laut
Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat daratan dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan sehingga di daratan merupakan daerah maksimum yang menyebabkan terjadinya angin darat. Sebaliknya, pada siang hari terjadi angin laut. Perhatikan gambar di bawah ini. Kedua angin ini banyak dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pada malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di laut. Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan pulang dari penangkapannya.
2. Angin Lembah dan Angin Gunung
Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada lembah yang dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum dan lembah tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara bergerak dari lembah menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari lembah ini disebut angin lembah. Pada malam hari puncak gunung lebih cepat mengeluarkan panas daripada lembah. Akibatnya di puncak gunung bertekanan lebih tinggi (maksimum) dibandingkan dengan di lembah (minimum) sehingga angin bertiup dari puncak gunung menuruni lereng menuju ke lembah. Angin dari puncak gunung ini disebut angin gunung.
Pustaka

Wyrtki, K. 1961. Physical Oceanography of Southeast Asean Waters. Naga Report \',I. 2. The University of California, La Jolla, California.

 

Oleh : Yogi Suardi

 

Salinitas Air Laut

Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya.Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas.Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.

Salinitas Air Laut, yogi suardiwerianto

Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.

Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.

Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:

S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)

Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.

Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:

S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)

Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.

Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.

"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:

S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2


Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.

Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).


Referensi :

Tomczak, M, An Introduction to Physical Oceanography 
Talley, L, Properties of Seawater 
Prager, Ellen J, and Sylvia A. Earle, The Oceans, McGraw-Hill, 2000. 
Pickard and Emery, Descriptive Physical Oceanography
http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/salinitas-air-laut.html


Oleh : Yogi Suardi

Perbandingan Kelimpahan Ikan Karang pada Terumbu Buatan Biorock dengan Transplantasi Karang di Tanjung Lesung, Banten

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Metode terbaru yang digunakan untuk transplantasi terumbu adalah mineral accretion atau biorock. Metode ini pertama kali ditemukan oleh Prof. Wolf Hilbertz pada tahun 1974 yang kemudian sejak 1988 bekerja sama dengan Dr. Tom Goreau mencoba untuk dikembangkan di seluruh dunia antara lain di Indonesia, Jamaica, Maldives, Papua Nugini, dan Thailand (GCRA, 2007). Tujuan lainnya dari pembuatan terumbu buatan dan transplantasi karang selain untuk mempercepat regenerasi terumbu karang juga untuk membuat suatu tempat baru bagi komunitas berbagai jenis ikan karang.

Studi yang sudah ada menjelaskan bahwa komunitas ikan karang masih dalam kondisi kurang baik di wilayah terumbu buatan (Kartawijaya. 2003). Penelitian Valentino (2004) menjelaskan bahwa kondisi komunitas ikan karang di wilayah transplantasi karang masih dalam kondisi kurang baik dibandingkan lokasi sekitarnya karena pelaksanaan transplantasi masih dalam fase awal. Dari penelitian ini, penulis mencoba membandingkan komunitas ikan karang di kedua wilayah tersebut dan diharapkan kondisi komunitas ikan karang di wilayah terumbu buatan Biorock lebih baik dibandingkan komunitas ikan karang di wilayah transplantasi karang. Penulis juga ingin melihat struktur trophic level berbagai jenis ikan karang yang terdapat di stasiun terumbu buatan Biorock dan Transplantasi Karang.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah

  1. Membandingkan kelimpahan ikan karang yang berada di kawasan terumbu buatan Biorock dan transplantasi karang
  2. Melihat struktur trophic level berbagai jenis ikan karang yang berada di kawasan terumbu Biorock dan transplantasi karang di daerah Tanjung Lesung, Banten.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini berlokasi di perairan pantai Tanjung Lesung Resort, Banten dengan koordinat dua stasiun pengamatan yaitu 06o28’41,9” LS 105o30’30,2” BT (stasiun biorock) dan 06o28’42,7” LS -105o30’30,7” BT (stasiun transplantasi karang). Pengambilan data dilakukan sebanyak 1x setiap bulannya dan dilakukan selama 4 bulan dari bulan Agustus-November 2007. Metode pengambilan data di lapangan dengan menggunakan Stationary Visual Cencus untuk data ikan karang dan Foto Transek untuk data terumbu karang (Hill and Wilkinson, 2004). Stasiun pengamatan ada 2 stasiun, yaitu stasiun Biorock dan Transplantasi Karang dimana kedua stasiun sama-sama menggunakan 5 buah transek kuadrat 2x2 m per stasiun.

Parameter fisika-kimia perairan yang diambil meliputi suhu, salinitas, kecerahan dan pH perairan. Peralatan yang digunakan selama penelitian di lapangan antara lain GPS (Global Positioning System), Termometer, Refraktometer, Secchi Disk, Kertas Lakmus, Kamera Underwater, peralatan SCUBA diving, alat tulis dan sabak untuk penulisan di bawah air. Peralatan serta bahan penelitian yang digunakan selama  pengolahan data antara lain seperangkat komputer, software Image J, program Fishbase (2008) dan buku Identifikasi Ikan (Allen, G.R dan Steen, R.C. 1990 ; Allen, et.all,. 2005). Analisis data yang digunakan adalah kelimpahan, indeks komunitas (keanekaragaman, keseragaman dan dominansi) untuk data ikan karang (Odum, 1993) dan uji t untuk membandingkan keadaan kedua stasiun serta persentase penutupan terumbu karang untuk data terumbu karang.

Ikan Karang, Biorock

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1  Parameter fisika-kimia perairan

Parameter fisika-kimia perairan yang diukur selama penelitian berlangsung di kedua stasiun pengamatan termasuk ke dalam kondisi optimal bagi pertumbuhan terumbu karang yang ditunjukkan oleh suhu berkisar antara 28-30oC, salinitas pada masing-masing stasiun relatif stabil, yaitu berkisar antara 32-33o/oo , faktor kecerahan yang sangat mendukung, kedalaman yang masih memungkinkan untuk terumbu karang dapat tumbuh dengan baik yaitu berkisar antara 2,5-3 m dan nilai pH yang relatif stabil,yaitu 8

III.2  Struktur komunitas ikan karang

III.2.1 Jumlah spesies dan indeks komunitas

Secara keseluruhan data ikan yang diperoleh dari kedua stasiun tersebut terdiri dari  20 famili, 44  genus dan 119 spesies.

Ikan Karang, Biorock

Ikan Karang, Biorock

Berdasarkan Gambar 2 diketahui bahwa jumlah spesies ikan karang yang berada di stasiun Biorock lebih banyak dibandingkan dengan jumlah spesies ikan karang yang muncul di stasiun Transplantasi Karang. Hal ini disebabkan oleh faktor kondisi dan keadaan terumbu karang yang ditransplantasikan di stasiun Transplantasi Karang dan di sekitar kerangkeng tidak terlalu baik dibandingkan dengan terumbu karang yang berada di stasiun Biorock.

Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa indeks keanekaragaman (H’) rata-rata di stasiun Biorock (3.00) lebih tinggi dibandingkan indeks keanekaragaman rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (2,58) yang menandakan keanekaragaman ikan karang di stasiun Biorock lebih baik dibandingkan di stasiun Transplantasi Karang

Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa indeks keseragaman (E) rata-rata di stasiun Biorock (0,85) memiliki nilai yang sama dengan indeks keseragaman rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (0,85). Hal ini menandakan bahwa di antara kedua stasiun keseragaman jenis ikan karang yang muncul selama penelitian berlangsung tidak ada perbedaan.

Berdasarkan Gambar 5 nilai indeks dominansi (C) diketahui bahwa indeks dominansi rata-rata di stasiun Biorock (0,07) lebih rendah dibandingkan indeks dominansi rata-rata di stasiun Transplantasi Karang (0,10). Hal ini menandakan bahwa dominansi jenis ikan karang yang muncul selama penelitian dilakukan di stasiun Biorock lebih sedikit dibandingkan dominansi jenis ikan karang yang muncul di stasiun Transplantasi Karang.

III.2.2  Struktur trophic level

Ikan Karang, Biorock

Berdasarkan Gambar 6 di atas dapat diketahui bahwa di kedua stasiun spesies yang muncul kebanyakan memiliki struktur trophic level Karnivora (K) dan paling sedikit adalah jenis ikan Planktivora. Hal ini dapat disebabkan oleh ketersediaan makanan yang melimpah di kedua stasiun sehingga jenis ikan karnivora lebih sering muncul di kedua stasiun untuk mencari makanan di sekitarnya.

III.2.3 Uji t

Ikan Karang, Biorock

Dengan  menggunakan Tabel t maka dapat diperoleh nilai t tabel sebesar 3,29 untuk semua waktu pengamatan kecuali untuk bulan November pada pukul 10 menggunakan t tabel sebesar 3,41 yang diperoleh dari hasil interpolasi t tabel lainnya (Magurran, 1988). Menggunakan hipotesis yang ada dapat diketahui bahwa untuk bulan Agustus dan September seluruh waktu pengamatan memiliki nilai t hitung < t tabel atau tidak memiliki perbedaan nyata. Sedangkan untuk bulan Oktober dan November seluruh waktu pengamatan memiliki nilai t hitung > t tabel atau memiliki perbedaan nyata.

 

III.3 Struktur komunitas terumbu karang

Terumbu karang di sekitar wilayah pengambilan data termasuk relatif buruk yang ditandai dengan jumlah Dead coral algae (DCA) yang sangat banyak hingga mencapai 50% di stasiun Biorock dan mencapai 61% di stasiun Transplantasi Karang (Grafik 7). Hal ini disebabkan di sekitar wilayah pengambilan data merupakan kawasan wisata sehingga banyak terjadi kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh perilaku manusia. Rata-rata persen penutupan terumbu karang di stasiun Biorock yang diamati sebesar 25,78%. Rata-rata persen penutupan terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang yang diamati sebesar 16,07%. Bentuk pertumbuhan terumbu karang yang banyak ditemukan di kedua stasiun pengambilan data adalah Acropora Branching (ACB).

Ikan Karang, Biorock

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kondisi ikan karang di stasiun Biorock lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi ikan karang di stasiun Transplantasi Karang. Hal ini dapat disebabkan oleh stasiun biorock yang memiliki penutupan terumbu karang yang cocok untuk menjadi tempat berdiam diri (shelter) beberapa jenis ikan karang. Dengan menggunakan uji t bulan Oktober dan November memiliki perbedaan yang nyata tentang keadaan komunitas ikan karang di kedua stasiun. Hal ini disebabkan bulan Oktober dan November merupakan musim peralihan dimana cuaca relatif lebih baik dibandingkan bulan Agsutus dan September yang masih termasuk musim timur. Ikan karang yang banyak muncul di kedua stasiun memiliki struktur trophic level Karnivora (K). Hal ini dapat disebabkan oleh ketersediaan makanan yang melimpah di kedua stasiun sehingga jenis ikan karnivora lebih sering muncul di kedua stasiun untuk mencari makanan di sekitarnya.

Tipe terumbu karang di perairan pantai Tanjung Lesung termasuk ke dalam tipe terumbu karang tepi (fringing reef). Kondisi terumbu karang di stasiun Biorock lebih baik dibandingkan dengan kondisi terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang dengan nilai persentase penutupan terumbu karangnya sebesar 25,78%. Sedangkan untuk terumbu karang di stasiun Transplantasi Karang nilai persentase penutupan terumbu karangnya sebesar 16,07%.

Saran

Saran-saran yang dapat diberikan oleh penulis untuk penelitian selanjutnya adalah :

  1. Penelitian ini mengunakan durasi waktu pengamatan selama 10 menit sekali waktu pengamatan sehingga untuk penelitian selanjutnya perlu diuji coba dengan durasi waktu yang lebih lama.
  2. Dapat pula dilakukan penelitian lanjutan mengapa ikan karnivora lebih banyak diketemukan di stasiun Biorock dan Transplantasi Karang dibandingkan struktur trophic level ikan karang lainnya.
  3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kelimpahan ikan karang di stasiun Biorock dan stasiun Transplantasi Karang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Fishbase. 2008.

http://www.fishbase.org/summary/spesiessummary.ID.genusname=??speciesname=??.php [17 Februari 2008]

GCRA. 2007. Biorock/Mineral Accretion Technology for Reef Restoration, Mariculture and Shore Protection. http://www.globalcoral.org. [20 Mei 2007]

Hill, Jos and Clive Wilkinson. 2004. Methods For Ecological Monitoring Of Coral Reefs : A Resource For Managers. Australian Institute of Marine Science. p : vi + 117

Magurran, Anne E. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey : Princeton University Press. p : 181

Odum, E. P.  1993.  Dasar-dasar Ekologi.  Edisi ketiga.  Terjemahan dari Fundamental of Ecology.  Alih Bahasa oleh T. Samingan.  Gajah Mada University Press.  Yogyakarta.  174-200 h.

 

Biodata

Ikan Karang, Biorock
Nama : Medriko Desistiano, S.Pi
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 30 Desember 1984
Alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, Angkatan 2003

Survei Kelautan

Potensi Kelautan di republik ini sungguh sangat berlimpah baik di nearshore maupun di offshore, di mana industri maritim merupakan industri yang sangat menantang (world wide business). Kawasan laut memiliki dimensi pengembangan yang lebih luas dari daratan karena mempunyai keragaman potensi alam yang dapat dikelola. Beberapa sektor kelautan seperti perikanan, perhubungan laut, pertambangan sudah mulai dikembangkan walaupun masih jauh dari potensi yang ada.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan industri yang marine-oriented, survei hidrografi mutlak dilakukan dalam tahapan explorasi maupun feasibility study. Survei hidrografi adalah cabang ilmu yang berkepentingan dengan pengukuran dan deskripsi sifat serta bentuk dasar perairan dan dinamika badan air atau dengan kata lain Hidrografi adalah ilmu terapan di dalam melakukan pengukuran dan pendeskripsian objek-objek fisik di bawah laut untuk digunakan dalam navigasi. Informasi yang diperoleh dari kegiatan ini untuk pengelolaan sumberdaya laut dan pembangunan industri kelautan (KK Hidrografi, 2004 ).

Kebutuhan teknologi survei dan pemetaan laut yang modern ini merupakan suatu kebutuhan, apalagi dengan berlakunya UNCLOS 1982 (United Nations Convention on Law of The Sea), Indonesia diakui sebagai negara kepulauan dan perairan yuridiksi Indonesia bertambah luas serta perlu segera dipetakan.

Kompetensi profesi dan Akademisi Hidrografi dikelompokkan menjadi beberapa aplikasi yaitu (IHB, 2001)
1. Nautical Charting ( pemetaan laut )
2. Military
3. Inland Water
4. Coastal Zone management
5. Offshore Seismic
6. Offshore Construction
7. Remote sensing

Tujuan survey hidro-oseanografi diantaranya untuk mendukung pekerjaan :
- Rencana penentuan dan pemasangan jalur kabel dan pipa bawah laut
- Pencarian pesawat dan kapal-kapal yang tenggelam.

-  Penentuan algoritma parameter kelautan (TSS, SST, koreksi kolom perairan untuk aplikasi penginderaan jauh, dll)
- Penentuan pengeboran sumur minyak (well rig)
- Operasi pencarian ranjau dan bahan peledak di bawah laut
- Investigasi pipa dan kabel bawah laut, dll.

Adapun kegiatan survey hidro-oseanografi meliputi :

1. Survey Titik Kontrol Geodetik
Referensi titik kontrol geodesi yang merupakan bagian dari Jaringan Kerangka Kontrol Horizontal Nasional yang terletak di dekat atau di lokasi survei diperlukan untuk penentuan posisi DGPS menggunakan Shorebase Station (Reference Point) dan untuk verifikasi alat DGPS yang akan digunakan untuk survey. Point of Origin untuk kerangka kontrol horizontal tersebut diperoleh dari instansi resmi, seperti Bakosurtanal. Jika diperlukan, penentuan point of origin dapat dilaksanakan sendiri, dengan referensi salah satu titik yang sudah ada, baik dengan mengadakan pengamatan GPS secara relatif maupun secara konvensional dengan melakukan pengukuran traverse. Jika titik referensi tambahan dibutuhkan, maka titik tersebut harus dibangun semi-permanen yang dapat mewakili daerah survei yang telah ditentukan.
Semua ketinggian (elevasi) dan kedalaman air, akan dihubungkan dengan suatu datum yang direferensikan ke Mean Sea Level (MSL) atau Chart Datum(Low Water Spring: LWS), atau datum tertentu yang sudah mendapatkan persetujuan. Semua elevasi dan kedalaman harus dihubungkan dengan benchmark tertentu yang terletak di darat, atau direferensikan kepada elipsoid tertentu yang ditentukan dengan GPS.

2. Sistem Navigasi Survey
Penentuan posisi kapal survei dilaksanakan menggunakan GPS receiver dengan metode Real Time Differential (DGPS) dengan mengikuti prinsip survei yang baik dan menjamin tidak adanya keraguan atas posisi yang dihasilkan. Lintasan kapal survei dipantau setiap saat melalui layar monitor atau diplot pada kertas dari atas anjungan. Sistim komputer navigasi memberikan informasi satelit GPS seperti: nomer satelit yang digunakan, PDOP dan HDOP. Elevation mask setiap satelit diset pada ketinggian minimum 10 derajat. Bila DGPS yang digunakan menggunakan shore base station, satu GPS receiver dipasang di atas kapal survei dan satu lagi di atas titik berkoordinat di darat (shore base station). Selama akuisisi data, koreksi differential dimonitor dari atas kapal pada sistim navigasi.
Sistim komputer navigasi menentukan posisi setiap detik, dan jika perlu, logging data ke hardisk komputer dapat ditentukan setiap 1, 5 atau 10 detik sebagai pilihan.

3. Pengamatan Pasang Surut Laut

Pasang surut muka air laut dipengaruhi gravitasi bulan dan matahari, tetapi lebih dominan grafitasi bulan, massa matahari jauh lebih besar dibandingkan massa bulan, namun karena jarak bulan yang jauh lebih dekat ke bumi di banding matahari, matahari hanya memberikan pengaruh yang lebih kecil, perbandingan grafitasi bulan dan matahari (masing-masing terhadap bumi) adalah sekitar 1 : 0,46.

Untuk keperluan pemetaan darat diperlukan data mean sea level ( msl ) yang merupakan rata – rata pasang surut selama kurun waktu tertentu (18,6 tahun). Untuk keperluan pemetaan laut diperlukan data surut terendah ( untuk keperluan praktis minimal pengamatan selama 1 bulan , untuk keperluan ilmiah bervariasi 1 tahun dan 18,6 tahun)

Pengamatan pasang surut dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan Muka Surutan Peta (Chart Datum), memberikan koreksi untuk reduksi hasil survei Batimetri, juga untuk mendapatkan korelasi data dengan hasil pengamatan arus.
Stasiun pasang surut dipasang di dekat/dalam kedua ujung koridor rencana jalur survey dan masing-masing diamati selama minimal 15 hari terus-menerus dan pengamatan pasang surut dilaksanakan selama pekerjaan survei berlangsung. Secepatnya setelah pemasangan, tide gauge/staff dilakukan pengikatan secara vertikal dengan metode levelling (sipat datar) ke titik kontrol di darat yang terdekat, sebelum pekerjaan survei dilaksanakan dan pada akhir pekerjaan survey dilakukan.

4. Survey Batimetri
Survei batimetrik dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan konfigurasi/ topografi dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan.
Survei Batimetri dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama harus dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 1.000 meter. Kemudian setelah rencana jalur kabel ditetapkan, koridor baru akan ditetapkan selebar 1.000 meter. Lajur utama dijalankan dengan interval 50 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 500 meter. Peralatan echosounder digunakan untuk mendapatkan data kedalaman optimum mencakup seluruh kedalaman dalam area survei. Agar tujuan ini tercapai, alat echosounder dioperasikan sesuai dengan spesifikasi pabrik. Prosedur standar kalibrasi dilaksanakan dengan melakukan barcheck atau koreksi Sound Velocity Profile (SVP) untuk menentukan transmisi dan kecepatan rambat gelombang suara dalam air laut, dan juga untuk menentukan index error correction. Kalibrasi dilaksanakan minimal sebelum dan setelah dilaksanakan survei pada hari yang sama. Kalibrasi juga selalu dilaksanakan setelah adanya perbaikan apabila terjadi kerusakan alat selama periode survei. Pekerjaan survei Batimetri tidak boleh dilaksanakan pada keadaan ombak dengan ketinggian lebih dari 1,5m bila tanpa heave compensator, atau hingga 2,5m bila menggunakan heave compensator.

5. Survey Side Scan Sonar

Survei investigasi bawah air (side scan sonar) dimaksudkan untuk mendapatkan kenampakan dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan. Dual-channel Side Scan Sonar System dengan kemampuan cakupan jarak minimal hingga 75m digunakan untuk mendapatkan data kenampakan dasar-laut (seabed features) di sepanjang koridor yang sama dengan survei Batimetri. Skala penyapuan yang digunakan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi overlap minimal 50% untuk area survei yang direncanakan. Lajur-lajur survei side scan sonar dapat dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan survei Batimetri dan/atau disesuaikan dengan kedalaman laut sehingga cakupan minimal tersebut dapat terpenuhi.
Apabila menggunakan towfish yang ditarik, panjang kabel towfish tersedia cukup agar tinggi towfish di atas dasar laut dapat dijaga kira-kira 10% dari lebar cakupan/ penyapuan yang dipilih. Towfish sebaiknya dioperasikan dari winch bermotor lengkap dengan electrical slip rings. Rekaman data sonar dikoreksi untuk tow fish lay back dan slant range. Apabila menggunakan towfish yang dipasang pada lambung kapal (vessel-mounted), sistim dilengkapi dengan heave compensator untuk mereduksi pengaruh gelombang. Sistem yang digunakan mampu menghasilkan clear record dari keadaan dasar laut, identifikasi adanya wrecks, obstacles, debris, sand waves, rock outcrops, mud flows atau slides dan sedimen.
Kemungkinan adanya bahaya atau keadaan dasar laut yang perlu mendapatkan perhatian khusus dilakukan investigasi untuk memperjelas jenis dan ukuran bahaya tersebut. Investigasi tersebut dapat dilaksanakan dengan menjalankan lajur yang lebih rapat pada arah yang berbeda dengan lajur umum yang telah dijalankan sebelumnya. Penentuan posisi menggunakan jarak atau waktu tertentu ditandai pada rekaman sonar. Data jarak antara towfish dan antena GPS, termasuk setiap perubahan jarak ini, harus dicatat secara tertib pada Operator’s Log selama survei berlangsung untuk keperluan pengolahan data lebih lanjut.

7. Survey Sub Bottom Profiler

Tujuan dari Survei Sub-bottom Profiling (SBP) adalah untuk investigasi dan identifikasi lapisan sedimen dekat dengan permukaan dasar-laut (biasanya hingga 10m) dan untuk menentukan informasi penting yang berhubungan dengan stratifikasi dasar laut. Survei SBP dapat dilaksanakan bersamaan dengan survei Batimetri dan Side Scan Sonar.
Survei SBP dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 1.000 meter. Kemudian setelah rencana jalur ditetapkan, lajur utama kembali dijalankan sebanyak 3 lajur dengan interval 50 meter, dimana satu lajur dijalankan tepat di tengah-tengah rencana jalur kabel.
System Parametric Subbottom Profiling (atau system lain yang dapat memberikan data sepadan) digunakan untuk mendapatkan rekaman data permanent secara grafis atas profil dasar laut dan perlapisan di bawahnya dengan penetrasi dan resolusi optimum di seluruh kedalaman sepanjang koridor rencana jalur kabel. Untuk mencapai maksud ini, peralatan dioperasikan sesuai dengan petunjuk pabrik dan diset untuk mendapatkan rekaman data optimum. Sub-bottom profiler memberikan rekaman data secara grafis dengan jelas pada skala dan resolusi yang jelas.
Jarak antara transducer/hydrophone dan antena GPS dicatat secara tertib pada Operator’s Log dan kemudian diperhitungkan pada saat pekerjaan interpretasi.
Survei Sub-bottom Profiling tidak boleh dilaksanakan pada cuaca berombak karena sangat mempengaruhi kualitas data, kecuali apabila menggunakan heave compensator. Kemungkinan terjadinya noise yang bersumber dari mesin atau kapal survei harus diupayakan seminimal mungkin dengan berbagai cara. Panjang kabel seismic source dan hydrophone (bila menggunakan sistem demikian) disediakan cukup sehingga memungkinkan diulur pada jarak yang dapat memberikan rekaman data optimum.

 

8. Survey Magnetik
Survei magnetik dilaksanakan untuk mendeteksi adanya obyek-obyek metal pada atau dekat permukaan dasar laut yang mungkin akan membahayakan. Bahaya yang dimaksud antara lain berupa : wrecks, sunken buoys, steel cables maupun bahaya lain yang terdapat di area survei yang telah ditentukan.
Survei magnetik disarankan dilaksanakan bersamaan dengan survei Batimetri, dengan interval lajur survei sebagaimana menjalankan lajur-lajur batimetrik. Survei magnetometer tidak disarankan untuk dilaksanakan bersamaan dengan survei Side Scan Sonar karena dikawatirkan terjadi gangguan yang bersumber dari towfish Side Scan Sonar kecuali dapat dibuktikan memang tidak terjadi gangguan. Panjang kabel disediakan cukup agar dapat dioperasikan secara optimum sesuai dengan kedalaman air laut selama pelaksanaan survei. Untuk mendapatkan rekaman (secara grafis atau digital) yang memberikan anomali jelas dan pada skala optimum, sensor unit dipasang sedemikian rupa sehingga berada dalam jangkauan deteksi optimum.
Jika terdapat indikasi adanya obyek metal yang cukup signifikan di suatu area tertentu, maka dilakukan survei investigasi lebih lanjut dengan cara menjalankan lajur survei dengan interval lebih rapat.

9. Pengukuran Arus

Pengamatan arus diperlukan dengan tujuan untuk mendapatkan data arah dan kecepatan arus. Data tersebut akan dikorelasikan dengan data pengamatan pasang surut.
Pengamatan arus dilaksanakan dengan 2 metode yaitu;
2 stasiun tetap yaitu pada perairan dekat kedua pantai di mana landing point akan ditempatkan selama sekurang-kurangnya 30 hari pengukuran pada 3 lapisan kedalaman sebesar 0.2, 0.6 dan 0.8m di bawah permukaan air.
Pengukuran dengan metode transek sepanjang jalur poros rencana survei selama sekurang-kurangnya 25 jam saat periode Spring Tide dengan menggunakan peralatan pengukur arus hidro-akustik.
Pembacaan atau pengumpulan data harus dilaksanakan dengan interval tidak lebih dari 60 menit.


10. Survey Transpor Sedimen
Dinamika badan air dan dasar perairan di wilayah survei dikenal sebagai daerah dengan tingkat dinamisasi dasar perairan yang tinggi. Hal tersebut diperkirakan akibat aktifitas eksploitasi pasir di sekitar area survei. Perubahan kedudukan dasar laut akan berakibat pada perubahan kedudukan kabel yang telah digelar.
Survei distribusi sedimen di sepanjang jalur survey minimum dilakukan di tiga tempat mewakili pantai dan tengah-tengah antara keduanya. Pengukuran dilakukan dalam rentang waktu 30 hari. Peralatan utama berupa sediment trap (jebakan sedimen). Sedimen yang terjebak selanjutnya diukur dan diteliti di laboratorium mengenai total berat, ukuran sedimen (grain size) dan dominasi komposisi sedimen dalam arah dan volume sedimen per satuan waktu. Hasil ini nantinya akan digunakan dalam menentukan model arus untuk membentuk model traspor sedimen yang tepat. 

11. Pengadaan Data Gelombang
Pengadaan data gelombang laut dilakukan dengan 2 metode yaitu metode pengukuran langsung dan metode pengadaan data tidak langsung atau data sekunder. Pada metode pengukuran langsung, pengamatan gelombang dilakukan dengan mengamati karakter gelombang pada kedua perairan dekat pantai. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan wave-staff atau peralatan perekam gelombang automatis (self recording).
Metode pengukuran tidak langsung dilakukan dengan pengumpulan data sekunder yang berasal dari dinas meteorologi setempat. Data tersebut dapat digunakan dalam pembangunan model gelombang.

12. Pengambilan Contoh Tanah
Pengambilan contoh dasar laut (seabed sampling) dilaksanakan dengan menggunakan salah satu dari alat berikut: Grab Sampler atau Gravity Corer. Grab/ gravity coring dilaksanakan sepanjang rencana jalur survey hingga kedalaman maksimum 10m dari permukaan dasar laut, dan dengan interval jarak 2,0km atau di lokasi di mana terdapat perubahan litology yang signifikan yang diindikasikan dari hasil survei SSS ataupun survei SBP.
Pengambilan contoh tanah dilakukan dari atas kapal survei dan dilaksanakan setelah adanya hasil interpretasi sementara di atas kapal survei atas hasil survei Side Scan Sonar dan Sub-bottom Profiling.
Setiap pengambilan contoh tanah harus diusahakan agar memperoleh penetrasi optimum. Setiap kali contoh tanah telah diambil harus dicatat dan dideskripsikan secara visual di lapangan tentang: posisi, jenis, ukuran butir, warna, dan lain-lain yang berhubungan.

Pustaka:

Poerbandono & Eka Djunarsjah (2005). Survei Hidrografi. Refika Aditama. Bandung, Indonesia. 166pp.

Djunarsjah, E. (2004), Penggunaan Standar Ketelitian IHO (SP-44) dalam Penetapan Batas Landas Kontinen, Makalah, Lokakarya Sewindu Konvensi Hukum Laut PBB, Yogyakarta.
http://www.indocrews.com

Survei Kelautan, survey kelautanOleh : I Made Royn Pasek
Penulis merupakan alumnus ITK IPB angkatan 2003, saat ini tengah bekerja di bagian underground mine engineering di sebuah perusahaan pertambangan di Papua.

Page 1 of 13

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »