Sekilas Artikel :
Anda Berada Di Biologi Kelautan Hewan Laut

Biologi Hewan Laut

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara (Stadia Spat) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat

PENDAHULUAN

Latar belakang

Mutiara memiliki manfaat selain untuk perhiasan, juga dapat digunakan sebagai bahan dasar kosmetik. Pembudidayaan mutiara dianggap sangat perlu karena meningkatnya permintaan pasar terhadap mutiara alami, yang mengakibatkan persediaan mutiara di alam semakin terbatas dan untuk mendapatkan jenis mutiara yang sesuai dengan selera pasar juga semakin sulit. Kondisi ini mendorong manusia menganggap perlu mengembangkan budidaya kerang mutiara untuk mendapatkan kualitas mutiara yang terbaik. Pusat Pembudidayaan dan Perdagangan Mutiara Internasional berada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Jenis kerang mutiara yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain kerang mutiara jenis Pinctada maxima, dimana jenis ini dikenal mampu menghasilkan mutiara yang berukuran cukup besar dikelasnya. Lingkungan perairan tropis Indonesia sangat mendukung kehidupan kerang mutiara sehingga pertumbuhannya dapat berlangsung sepanjang tahun. Kerang mutiara biasanya hidup di daerah terumbu karang atau substrat yang berpasir, dan pola penyebaran kerang mutiara biasanya terdapat pada daerah yang beriklim hangat di daerah tropis dan subtropis. Pertumbuhan kerang di daerah subtropis berlangsung di musim panas (summer) sedangkan di musim dingin (winter) pertumbuhannya berlangsung lambat atau terkadang tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Hal inilah yang menyebabkan waktu pertumbuhan kerang mutiara di Indonesia (daerah tropis) cenderung 4,6 kali lebih cepat dibandingkan dengan kerang mutiara Jepang (daerah subtropis). Pertumbuhan kerang mutiara sangatlah dipengaruhi oleh faktor-faktor alam sebagai parameternya antara lain biologis, fisika dan kimia. Beberapa faktor itu adalah suhu perairan, salinitas, suplai makanan yang cukup dan persentase unsur kimia di laut. Suhu menjadi faktor yang mampu mempengaruhi pertumbuhan kerang mutiara, karena pada musim panas, saat suhu naik, kerang mutiara dapat tumbuh secara maksimal. Namun saat suhu dan salinitas sepanjang tahun stabil dengan lingkungan yang ideal, maka pertumbuhannya akan stabil pula.

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengkaji pengaruh kondisi parameter fisika, kimia dan biologi perairan serta peranannya terhadap pertumbuhan kerang mutiara dewasa maupun kerang mutiara stadia spat.

2. Mengkaji apakah lingkungan di daerah Teluk Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat tersebut masih layak atau tidak untuk pengembangan budidaya kerang mutiara.

BAHAN DAN METODE

Lokasi dan waktu

Penelitian ini dilakukan pada pertengahan bulan Oktober 2005 di Teluk Sekotong Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan pada lima stasiun pengamatan di Teluk Sekotong. Bertempat di PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara Dusun Pandanan, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Lokasi penelitian diapit oleh dua sungai diantaranya Sungai Pandanan. Daerah penelitian kerang mutiara berada di Dusun Pandanan, Desa Sekotong Barat ini dibatasi oleh perairan Teluk Tawun di sebelah utara, Gili Gede di sebelah selatan, Selat Lombok di sebelah barat, dan Dusun Pangawisan di sebelah timur. Desa Sekotong Barat berada di sebelah selatan Teluk Tawun, dimana Dusun Pengawisan berada pada 115o58’24” BT, 08o43’17” LS, dan Dusun Pandanan berada pada 115o58’24” BT, 08o43’42” LS.

Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian kerang mutiara antara lain termometer, secchi disk, refraktometer, plankton-net ukuran 20 mikron, botol Nansen, pH meter digital, jangka sorong (kaliper), botol sampel, kolektor pemeliharaan, tali pengantung, mikroskop, buku identifikasi dan alat tulis. Alat-alat yang digunakan di lapangan adalah bak fiber ukuran 1 ton, pocket-net untuk induk, pocket-net untuk spat, waring, spat kolektor, rakit penampung induk, plankton-net 20 µ, kertas saring, toples, galon, sudip, forsep, keranjang (penampung induk).

Bahan-bahan yang digunakan adalah pakan alami jenis Isocrysis, Pavlova, Chaetoceros, dan Nannochloropsis, serta kerang mutiara (stadia spat dan induk dewasa).

Metode pengumpulan data

Penelitian yang dilakukan menggunakan dua metode, yaitu primer dan sekunder. Pengukuran data primer berupa pengukuran langsung terhadap faktor lingkungan (parameter biologi, fisika dan kimia), pengkulturan pakan kerang mutiara (stadia spat-dewasa), pengukuran kelayakan stasiun, wawancara dan fotografi. Sumber data sekunder berupa data tambahan (kecepatan arus, substrat, distribusi, dan lainnya) diperoleh dari buletin, jurnal, internet, peta atau atlas, gloseri, kamus, diktat, katalog, abstrak dan buku, serta data-data pendukung dari berbagai sumber lainnya.

Penentuan kelayakan stasiun

Penentuan kelayakan stasiun pengamatan diperoleh dengan menganalisa parameter hasil pengukuran insitu dan pengamatan langsung di lokasi penelitian (data primer) pada sistem penilaian kelayakan lokasi budidaya kerang mutiara (Pinctada sp.) oleh Winanto, 1992 in Sutaman, 1993 dan dihitung jumlah total nilai yang diperoleh. Pembahasan dilakukan secara deskriptif.

Analisa data

Kelimpahan plankton

Analisa data parameter fisika, kimia dan biologi dilakukan secara kriteria yang sudah ditetapkan. Plankton dianalisa di laboratorium PT. BGHM sebagai data sekunder oleh rumus kelimpahan plankton. Hubungan antara parameter fisika, kimia dan biologi terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan cangkang kerang mutiara dianalisa dengan menggunakan sistem penilaian kelayakan untuk lokasi budidaya kerang mutiara.

Kelimpahan plankton dianalisa dengan rumus APHA 1979:

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

 

Analisis komponen utama

Analisis komponen utama dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara parameter fisika kimia perairan. Parameter fisika kimia perairan dapat dilihat berdasarkan kedalaman, salinitas, suhu air, suhu udara, kecerahan, pH, DO, BOD, COD, nitrat, ortofosfat dan silikat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi parameter lingkungan

Secara keseluruhan kondisi Perairan Sekotong, Lombok Barat dapat dikatakan dalam kondisi yang baik dan masih memenuhi syarat untuk tujuan budidaya perikanan laut khususnya kerang mutiara seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengukuran rata-rata parameter lingkungan (fisika, kimia dan biologi perairan) di setiap stasiun pengamatan di Teluk Sekotong, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat pada bulan Oktober 2005.

PARAMETER

UNIT

STASIUN

1

2

3

4

5

Biologi

Plankton

Ind/l

1,714

1,688

1,792

1,726

1,869

Fisika

Suhu (air)

oC

28

26

27

28

28,5

Suhu (Udara)

oC

27

28

26,5

27,8

29

Kecerahan

m

7,5

6

6,4

7

6,4

Kedalaman

m

23,5

29

28

27

22

Kimia

Salinitas

0/00

30

31

31

33

31

pH

-

8,02

7,94

8,09

8,02

7,96

DO

ppm

5,4

5,5

5,7

5,4

5,5

BOD

ppm

2,25

1,75

1,33

0,86

1,75

COD

ppm

4,89

1,88

1,05

2,55

3,64

Nitrat

ppm

0,676

0,243

0,248

0,356

0,443

Ortofosfat

ppm

0,1880

0,1487

0,1284

0,1294

0,1484

Silikat

ppm

0,72

1,20

2,01

0,63

0,45

Pengukuran rata-rata parameter lingkungan ini dilakukan pada bulan Oktober 2005 di sore hari, jam 16.20-17.20 WITA dan arah angin ke selatan menuju daratan. Pengukuran dilakukan di 5 stasiun yang berjauhan dengan jarak antar stasiun 100 meter disesuaikan dengan lokasi penangkaran kerang mutiara di PT. BGHM, dimana stasiun 1 berada di dekat pantai, stasiun 2 sedikit lebih ketengah, stasiun 3 berada di tengah-tengah sekitar rumah apung berukuran 10 x 12 m (ujung terluar penangkaran), stasiun 4 mulai kembali kearah daratan (spot gabus putih) hampir sejajar dengan stasiun 2, dan stasiun ke 5 merupakan stasiun terakhir yang sudah cukup dekat dengan daratan sehingga dapat digambarkan model pengukuran rata-rata parameter lingkungan berbentuk seperti huruf  “ n” .

Hasil pengukuran parameter biologi

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup kerang mutiara budidaya umumnya mengandalkan keberadaan dan ketersediaan plankton di perairan. Kelimpahan plankton (Gambar 1) di Perairan Sekotong tertinggi ditemukan pada stasiun 5 yaitu sebanyak 1,869 ind/l, kelimpahan terendah dapat kita jumpai pada stasiun 2 yaitu sebanyak 1,688 ind/l. Kelimpahan tertinggi pada stasiun 5 disebabkan oleh letak stasiun ini dengan muara sungai yang memungkinkan masuknya unsur hara dari daratan yang dimanfaatkan oleh fitoplankton secara optimal.Distribusi kelimpahan plankton sangat dipengaruhi oleh pola arus yang terbentuk. Arus yang berbeda antara permukaan dan dibawah permukaan laut menyebabkan penyebaran kelimpahan plankton menjadi tidak merata.

Hasil pengukuran parameter fisika

Parameter fisika yang diukur untuk menentukan kelangsungan hidup terhadap pertumbuhan kerang mutiara antara lain suhu, kedalaman dan kecerahan. Grafik pengukuran terhadap parameter fisika dapat dilihat pada gambar 2.

 

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

 

Kisaran suhu perairan pada lima stasiun pengamatan memiliki kisaran antara 26 sampai 28,5 oC dengan suhu terendah dapat kita jumpai pada stasiun 2 sebesar 26 oC dan tertinggi pada stasiun 5 sebesar 28,5 oC. Suhu yang teramati masih berada dalam kisaran suhu yang normal untuk pertumbuhan terbaik kerang mutiara dialam yaitu kisaran 26-30 oC untuk daerah tropis karena memiliki perairan yang hangat sepanjang tahun (Setyobudiandi, 1989). Suhu udara diperoleh dari data sekunder PT. BGHM di lokasi stasiun yang sama. Masing-masing berkisar antara 26,5–29 oC, suhu udara tertinggi terdapat pada stasiun 5 dan suhu udara terendah ada pada stasiun 3.

Perairan Sekotong selama pengukuran memiliki kisaran kecerahan sebesar 6-7,5 meter dengan nilai kecerahan tertinggi ditemui pada stasiun 1 yaitu sebesar 7,5 meter. Nilai kisaran kecerahan Perairan Sekotong ini berada diatas nilai kisaran kecerahan yang layak untuk keperluan budidaya kerang mutiara, yaitu sebesar 4,5-6,5 meter (Sutaman, 1993). Stasiun 2 memiliki kecerahan terendah yaitu sebesar 6 meter, hal ini disebabkan penelitian dilakukan di Teluk Perairan Sekotong, Lombok Barat, NTB dan juga di sekitar Perairan Sekotong itu terdapat run-off 2 sungai dari daratan diantaranya Sungai Pandanan. Kedalaman perairan yang cocok untuk budidaya kerang mutiara adalah antara 15-20 meter. Pada kedalaman ini, pertumbuhan kerang mutiara akan lebih baik (Sutaman, 1993). Sehingga secara keseluruhan kedalaman di kelima stasiun ini masih dapat dikatakan layak untuk lokasi budidaya kerang mutiara.

Hasil pengukuran parameter kimia

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

 

Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa Pengukuran rata-rata parameter salinitas di Perairan Sekotong didapatkan kisaran antara 30-33 permil, sesuai dengan karakteristik salinitas massa air yang didominasi oleh Samudra Hindia yaitu dibawah 33 permil. Salinitas tertinggi terlihat pada stasiun 4, dengan nilai salinitas 33 permil. Hal ini terjadi karena letak stasiun 4 atau spot gabus putih berada di daerah tengah laut walau sudah ke arah daratan yang memungkinkan memperoleh pengaruh langsung dari laut di luar teluk. Salinitas terendah terlihat pada stasiun 1, dengan nilai salinitas 30 permil. Hal ini terjadi karena stasiun 1 berada di dekat daratan dan muara Sungai Pandanan, sehingga memungkinkan adanya pengaruh run-off dari daratan. Derajat keasaman (pH) di perairan Teluk Sekotong memiliki kisaran 7,94-8,09. Nilai pH terendah berada pada stasiun 2 sebesar 7,94 dan tertinggi pada stasiun 3 sebesar 8,09. Sebaran nilai pH antar stasiun relatif homogen. Nilai oksigen terlarut di Perairan Sekotong didapatkan kisaran nilai oksigen terlarut sebesar 5,4-5,7 ppm. Kisaran nilai konsentrasi oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun 1 sebesar 5,4 ppm, hal ini dikarenakan stasiun 1 berada di dekat muara Sungai Pandanan sehingga mendapat pengaruh run-off dari daratan dan juga mendapat asupan massa air dari sungai. Nilai oksigen terlarut tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 5,7 ppm, stasiun 3 yang terletak cukup jauh dari daratan dan berada di garis terluar lokasi budidaya mutiara menyebabkan oksigen terlarut di daerah ini paling tinggi di antara stasiun lain. Utuk nilai BOD masih cukup bagus dan nilai COD cukup rendah.

Hasil penentuan kelayakan stasiun

Penilaian kelayakan stasiun di Perairan Sekotong adalah cukup layak untuk lokasi budidaya kerang mutiara dengan nilai (Score) total 82 untuk stasiun 1, nilai total 84 untuk stasiun 2, 3, 4 dan 5. Secara keseluruhan stasiun di Teluk Sekotong merupakan lokasi yang cukup layak untuk lahan budidaya kerang mutiara terutama stasiun 2, 3, 4 dan 5.

 

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

Perairan Sekotong termasuk perairan dengan kesuburan sedang untuk nitrat dengan kisaran 0,027-1,129 ppm nitrat dan kesuburan sangat baik untuk ortofosfat dengan nilai kisaran lebih dari 0,101 ppm ortofosfat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Parameter hasil pengukuran dapat diketahui bahwa untuk kerang mutiara dewasa faktor lingkungan sangat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kualitas mutiara yang akan dihasilkan, sedangkan pada kerang mutiara stadia spat faktor lingkungan tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan dan pertumbuhan di fase ini, karena kerang mutiara muda stadia spat dibudidayakan di dalam bak fiber penampungan ukuran 1 ton di dalam laboratorium, sumber makanan diperoleh melalui bantuan campur tangan manusia, dimana setiap harinya dikondisikan pemberian makan berupa plankton yang telah di kultur massal di dalam laboratorium.

Teluk Sekotong menurut hasil sistem penilaian kelayakan lokasi budidaya kerang mutiara menunjukkan masih cukup layak dijadikan lokasi budidaya kerang mutiara di masa yang akan datang walaupun masih memerlukan sistem pengaturan yang baik dan parameter yang dirasa kurang memenuhi syarat harus disiasati serta diperhatikan secara pendekatan ilmiah, dimana hasilnya menunjukkan di Perairan Sekotong dinyatakan cukup layak untuk lokasi budidaya kerang mutiara dengan nilai (Score) total 82 untuk stasiun 1, nilai total 84 untuk stasiun 2, 3, 4 dan 5. Secara keseluruhan semua stasiun di PT. BGHM berdasarkan klasifikasi kualitas air ditinjau dari kandungan oksigen terlarut menunjukkan lokasi ini tergolong tercemar ringan,namun masih cukup layak dalam pembudidayaan kerang mutiara jenis Pinctada maxima.

Saran

Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai kajian parameter lingkungan yang mempengaruhi kualitas mutiara pasca dimulainya isu pemanasan global di Teluk Sekotong Lombok Barat, Nusa tenggara Barat secara berulang dan periodik sehingga kedepannya perolehan data akan semakin valid dan nilai jual yang semakin tinggi.

Budidaya kerang mutiara di Teluk Sekotong ini kebanyakan masih dilakukan secara semi-modern, sehingga sudah selayaknya masyarakat disekitar pesisir budidaya ini dikenalkan dengan teknologi yang jauh lebih baik, jauh lebih modern dan juga diadakan penyuluhan-penyuluhan untuk menghasilkan mutiara-mutiara terbaik yang pada akhirnya mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar. Dan disarankan bagi mahasiswa-mahasiswa Ilmu Teknologi Kelautan pada khususnya, untuk secara intensif mempelajari dan mau mengambil penelitian-penelitian mengenai kerang mutiara, karena masih banyak sekali bahasan-bahasan yang bisa dikembangkan di bidang ini, sehingga kedepannya kita akan memiliki banyak literatur berkualitas mengenai kerang mutiara.

DAFTAR PUSTAKA

APHA (American Public Health Assosiation). 1979. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater. 17thd. APHA, AWWA (American Waste Water Assosiation) and WPCF (Water Pollution Control Federation). Poet City Press. Balymore, Meryland.

Setyobudiandi, I. 1989. Moluska (Tiram Mutiara). Bahan Kuliah Sumberdaya Non Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sutaman. 1993. Tiram Mutiara: Tehnik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta: 93 hal.

Penulis

Kajian Faktor Lingkungan Habitat Kerang Mutiara, Stadia Spat

Muhammad Eric Harramain, S.Pi, berasal dari Bintaro yang dilahirkan pada tanggal 14 Oktober 1984, telah menyelesaikan pendidikan Srata 1 di Institut Pertanian Bogor Program Studi Ilmu Kelautan.

Page 5 of 9