Anda Berada Di Biologi Kelautan Hewan Laut Penyebaran Beberapa Jenis Cetacean Subordo Odontoceti Di Perairan Laut Sawu Bagian Timur, Nusa Tenggara Timur

Penyebaran Beberapa Jenis Cetacean Subordo Odontoceti Di Perairan Laut Sawu Bagian Timur, Nusa Tenggara Timur

PENDAHULUAN

Latar belakang

Laut Indonesia memiliki keanekaragaman jenis cetacean yang tinggi, terdapat sekitar 30 jenis paus dan lumba-lumba di Perairan Indonesia (yaitu lebih dari sepertiga;  35%) dari total 86 jenis di dunia, termasuk beberapa jenis yang populasinya diklasifikasikan jarang dan dalam keadaan bahaya (Rudolph et al., 1997).  Perairan timur Indonesia, khususnya di beberapa terusan dalam antarpulau, diduga berfungsi sebagai pintu masuk jalur migrasi cetacean.  Perairan sekitar Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah yang dilewati oleh cetacean  Dewasa ini perhatian masyarakat dunia sebagian besar tertuju pada penyebaran, pola migrasi, dan kelestarian mamalia lautpada umumnya, dan cetacean pada khususnya.  Hal ini disebabkan oleh makin menurunnya populasi mamalia laut tersebut yang diakibatkan oleh pengaruh aktivitas manusia, seperti adanya pencemaran dan perusakan lingkungan, sehingga menyebabkan cetacean menjadi hewan yang harus dilindungi keberadaannya. saat bermigrasi.

Cetacean adalah sebutan umum bagi mamalia laut dari Ordo Cetacea, antara lain paus, lumba-lumba, dan pesut.  Seperti mamalia laut yang pada umumnya hidup di darat, di dalam air cetacean juga bernapas menggunakan paru-paru dan bereproduksi dengan cara melahirkan.  Sebagian besar cetacean hidup di laut, tetapi ada juga beberapa jenis yang hidup di air tawar, yaitu dari jenis lumba-lumba (Mead dan Gold, 2002).

Penyebaran cetacean di Perairan Indonesia sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan baik.  Hal ini disebabkan oleh penelitian tentang cetacean yang masih sangat jarang dilakukan, sehingga akan sulit untuk melestarikan cetacean jika keberadaannya belum diketahui dengan pasti.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui habitat dan penyebaran cetacean terutama di Perairan Laut Sawu, sehingga dapat dijadikan bahan informasi bagi peneliti selanjutnya atau pihak yang berwenang untuk melakukan suatu tindakan yang dapat melestarikan keberadaan cetacean di Indonesia.

Tujuan penelitian

Tujuan yang ingin dicapai di dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:

1.  Mengkaji sebaran dan kelimpahan beberapa jenis cetacean terutama Subordo Odontoceti di Perairan Laut Sawu bagian timur, Nusa Tenggara Timur.

2.  Mengkaji hubungan sebaran cetacean dengan kondisi oseanografi di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.

METODOLOGI

Waktu dan lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 27-30 Desember 2005 di Perairan Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.  Penelitian ini merupakan bagian dari salah satu kegiatan survei inventarisasi cetacean yang dilakukan oleh PRPT-BRKP (Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan dan Perikanan) secara rutin yang dimulai pada Tahun 2003.

Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Kapal, Kamera, Teropong, Papan jalan (clipboard) dan papan sudut (angleboard), Global Positioning System (GPS, stopwatch, Lembar pengamatan (data sheet) dan alat tulis, Program Microsoft Office 2003, Program GIS 3.2, Program ODV (Ocean Data View) 3.2, dan Program Distance 4.1. ArcView.

Bahan yang digunakan pada penelitian ini, antara lain peta batimetri Laut Sawu dan sekitarnya serta buku identifikasi Smithsonian Handbook of Whales, Dolphins, and Porpoises (Carwardine, 2002) dan FAO Species Identification Guide to Marine Mammals of the Worldet al., 1993). (Jefferson et al., 1993).

Pengumpulan data

Data yang digunakan terdiri atas data primer, yaitu data yang berkaitan langsung dengan penelitian, dan data sekunder sebagai data penunjang dalam penelitian. Pengumpulan data primer dilakukan secara langsung pada saat pengamatan di lapangan.  Pada saat cetacean terlihat, data yang diambil saat pengamatan di lapangan adalah tanggal dan waktu pada saat cetacean tampak, posisi kapal (dengan GPS), kondisi permukaan laut saat, nama dan jumlah spesies cetacean yang tampak, keberadaan anak cetacean (calf) beserta jumlahnya, jarak relatif cetacean yang tampak dari kapal, perkiraan sudut cetacean dengan kapal, arah renang cetacean, tingkah laku cetacean, dan spesies lain yang berasosiasi dengan cetacean tersebut.  Semua data yang diperoleh di lapangan dicatat pada lembar pengamatan (data sheet).

Data sekunder yang digunakan terdiri atas data suhu, salinitas, gelombang, dan arus.  Data suhu dan salinitas berasal dari Ekspedisi INSTANT-2003 (International Nusantara Startification and Transport) yang dikoordinasi oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (BRKP-DKP) bekerja sama dengan  Australia, Amerika, Belanda, dan Perancis menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII-LIPI.  Data tersebut merupakan hasil pengukuran menggunakan CTD (Conductivity Temperature Depth) yang dilaksanakan pada Bulan Januari 2004 di Selat Ombai.

Analisa data

Data-data primer yang telah diperoleh kemudian diolah menggunakan program Microsoft Excel, dan untuk mengetahui penyebaran cetacean di daerah survei digunakan program GIS ArcView 3.2 dengan cara memplotkan data jumlah tiap jenis cetacean dan letak koordinat di mana cetacean ditemukan.

Selanjutnya, untuk menentukan estimasi kepadatan populasi cetacean pada daerah penelitian, maka data yang telah diperoleh dan telah diketahui jarak tegak lurusnya diolah menggunakan program Distance 4.1.  Distance 4.1 adalah sebuah program khusus yang dapat mendesain dan menganalisa survei untuk populasi hewan liar (burung, mamalia darat dan laut, reptil, serangga, dan sebagainya) yang menggunakan metode pengambilan contoh jarak jauh (distance sampling).

Secara statistika, estimasi kepadatan dapat dihitung dengan persamaan umum di bawah ini (Buckland et al., 2001):

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

 

Data sekunder yang diperoleh dari CTD dipilih dan disusun menggunakan Program Microsoft Excel, terbatas hanya pada parameter yang dibutuhkan, yaitu suhu dan salinitas.  Parameter-parameter yang telah dibatasi tersebut diolah lebih lanjut menggunakan program ODV 3.2, sehingga menghasilkan data-data perairan yang diinginkan, antara lain diagram-diagram berupa sebaran melintang dan profil menegak suhu dan salinitas serta Diagram T-S.

Data gelombang dan arus yang diperoleh sudah dalam bentuk data hasil pengolahan yang ditampilkan dalam bentuk gambar, yang masing-masing berekstensi *.bmp (bitmap image) dan *.png (portable network graphics format), sehingga tidak perlu diolah lagi dengan menggunakan program tertentu.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi perairan

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu


Gambar 1 menunjukkan sebaran melintang suhu yang diplot dari Stasiun 6-10, yang pada umumnya memiliki kisaran suhu yang sama, yaitu 20,0-27,5 °C (pada kedalaman 0-200 m).  Lapisan homogen sebesar 27,5 °C terdapat pada permukaan sampai dengan kedalaman ±50 m (mixed layer), sedangkan lapisan termoklin berada pada kedalaman >50 m dengan kisaran 25 °C sampai <20 °C. Salinitas pada permukaan sampai dengan kedalaman 100 m (mixed layer) relatif homogen, yaitu 34,4 psu.  Tetapi pada jarak 26-40 km ada pemasukan massa air yang berasal dari Perairan Laut Banda, ditandai dengan penurunan nilai salinitas, yaitu sekitar 34,0-34,3 psu dari permukaan sampai kedalaman 100 m nilai salinitas cenderung seragam, yaitu 34,5 psu.

 

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

 

Stasiun 6-10 yang terletak di Selat Ombai terdapat dua jenis massa air.  Massa air pertama memiliki suhu yang tinggi dengan salinitas yang rendah, masing-masing berkisar antara 28-29 °C dan salinitas 30,8-32,0 psu di sekitar permukaan perairan.  Massa air kedua memiliki kisaran suhu yang lebih luas daripada massa air pertama, mulai dari <4 °C sampai 29 °C dengan salinitas yang lebih tinggi, yaitu berkisar antara 34,3-34,6 psu.  Kisaran kedalaman pada massa air kedua juga lebih luas dibandingkan massa air pertama, yaitu 0-1000 m. Rata-rata tinggi gelombang di Laut Sawu bagian utara sampai timur (Kepulauan Alor-Pulau Timor) lebih rendah dibandingkan bagian barat daya sampai selatan (Pulau Sumba-Pulau Rote). Bulan Februari terdapat nilai yang cukup tinggi di Samudera Hindia, yaitu 1,8-2,2 m.

Hasil survei cetacean

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

Total frekuensi sighting sebanyak 76 kali pada daerah penelitian, Long-snouted Spinner Dolphin merupakan spesies yang memiliki frekuensi sighting tertinggi, yaitu sebanyak 24 kali sighting (31,58%). Maka, dapat disimpulkan bahwa Perairan Laut Sawu merupakan salah satu habitat dari Long-snouted Spinner Dolphin tersebut.  Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan perairan tersebut cocok bagi mereka, misalnya ketersediaan makanan (aktivitas feeding). Spesies yang memiliki frekuensi sighting terendah adalah Pantropical Spotted Dolphin, yaitu hanya 2 kali sighting atau sebanyak 2,63% dari total frekuensi sighting (Gambar 21).Mungkin kondisi perairan di daerah Samudera Pasifik Tropis bagian timur lebih cocok bagi mereka.

Kelimpahan spasial cetacean di Laut Sawu

Tabel 1.  Kelimpahan spesies cetacean pada tiap sektor

Jenis Cetacean

Jumlah (ind)

Sektor 1

Sektor 2

Sektor 3

Sektor 4

Long-snouted Spinner Dolphin

182

548

157

107

Pantropical Spotted Dolphin

0

21

0

0

Bottlenose Dolphin

0

36

0

0

Fraser’s Dolphin

0

40

0

0

Sperm Whale

0

12

0

3

Short-finned Pilot Whale

0

102

149

0

False Killer Whale

0

17

0

0

Pygmy Killer Whale

0

0

40

64

Spesies tak teridentifikasi

0

110

57

24

Jumlah

182

886

403

198

Komposisi kelimpahan cetacean yang ditemukan selama penelitian, spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Long-snouted Spinner Dolphin dengan kelimpahan sebesar 994 ind (59,6%).  Selanjutnya disusul oleh Short-finned Pilot Whale sebesar 251 ind (15,0%), Pygmy Killer Whale sebesar 104 ind (6,2%), Fraser’s Dolphin sebesar 40 ind (2,4%), Bottlenose Dolphin sebesar 36 ind (2,2%), Pantropical Spotted Dolphin sebesar 21 ind (1,3%), False Killer Whale sebesar 17 ind (1,0%), dan yang terkecil Sperm Whale sebesar 15 ind (0,9%).

 

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

 

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu


Spesies yang memiliki frekuensi sighting terendah pada sektor iniadalah Pantropical Spotted Dolphin, yaitu sebanyak 2 kali (Gambar 4).  Pantropical Spotted Dolphin ini hanya ditemukan sedikit dan hanya pada Sektor 2 (Perairan Pantar- Selat Ombai). Hal ini mungkin disebabkan oleh keadaan cuaca yang paling baik pada Sektor 2. Pada Gambar 5. Dapat diketahui bahwa sektor 1 tidak dapat dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya, karena walaupun sighting pada Sektor 1 seluruhnya (100%) terjadi pada Skala 1, jumlah sighting pada Sektor 1 hanya 1 kali.  Jadi, jika dibandingkan dengan Sektor 2, 3, dan 4 yang masing-masing memiliki jumlah sightingvalid. sebanyak 41, 16, dan 18 kali, hasilnya tidak akan valid.

Sebaran dan kelimpahan temporal cetacean di Laut Sawu

Tabel 2.  Hasil sighting harian cetacean Bulan Desember 2005

Tanggal

Jumlah Sighting

Jumlah Individu

27 Desember 2005

1

182

28 Desember 2005

41

886

29 Desember 2005

16

403

30 Desember 2005

18

198

Total

76

1669

Tabel 3.  Hasil sighting harian cetacean Bulan Juli 2005

Tanggal

Jumlah Sighting

Jumlah Individu

28 Juli 2005

4

88

29 Juli 2005

6

48

30 Juli 2005

4

55

31 Juli 2005

5

70

01 Agustus 2005

1

30

Total

20

291

Sumber:  Pusat Riset Perikanan Tangkap (2005)

Pada Tabel 2 dan 3 dapat diketahui bahwa, Bulan Desember memiliki hasil yang lebih bervariasi pada tiap harinya daripada hasil di Bulan Juli yang cenderung lebih seragam.  Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan pengamat saat menghitung jumlah individu cetacean yang tidak semuanya terlihat pada tiap sighting.  Perbedaan musim dan lokasi penelitian juga dapat menyebabkan jumlah sighting pada Bulan Juli jauh lebih sedikit daripada Bulan Desember.

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu


Komposisi jumlah spesies yang ditemukan setiap harinya dapat dilihat pada Gambar 6.  Komposisi tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, antara lain:  1) Long-snouted Spinner Dolphin yang ditemukan di semua atau 4/4 hari survei;  2) Short-finned Pilot Whale, Pygmy Killer Whale, dan Sperm Whale yang ditemukan pada 2/4 hari survei;  dan 3) Pantropical Spotted Dolphin, Bottlenose Dolphin, Fraser’s Dolphin, dan False Killer Whale yang ditemukan hanya pada ¼ hari survei. Kelompok 1 hanya terdiri dari satu spesies, yaitu Long-snouted Spinner Dolphin dan memiliki komposisi terbanyak dibandingkan Kelompok 2 dan 3. Kelompok 2 hanya ditemukan dua hari, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketersediaan makanan yang cukup bagi Short-finned Pilot Whale di perairan tersebut (berdasarkan tingkah laku feeding), perairan yang cukup dalam bagi Pygmy Killer Whale yang hanya berhabitat di perairan lepas pantai (offshore) serta Sperm Whale yang membutuhkan ruang untuk menyelam ke dalam perairan, dan adanya kemungkinan bahwa cetacean tersebut tidak keluar ke permukaan perairan sehingga tidak dapat terlihat oleh pengamat.  Kelompok 3 hanya ditemukan pada satu hari pengamatan.  Pada umumnya hal ini lebih berkaitan dengan penyebaran masing-masing spesies yang kurang merata.

Sebaran dan kelimpahan cetacean menurut selang waktu harian

Tabel 4.  Jumlah sighting dan individu cetacean berdasarkan selang waktu

Selang Waktu

Jumlah Sighting

Jumlah Individu

07:00 – 08:10

5

361

08:15 – 09:30

14

398

09:35 – 10:50

11

86

10:55 – 12:10

19

188

12:15 – 13:30

13

302

13:35 – 14:50

4

35

14:55 – 16:10

4

68

16:15 – 17:30

5

221

17:35 – 18:50

1

10

Jumlah

76

1669

Penyebaran jumlah cetacean secara harian berdasarkan selang waktu dapat dilihat pada Tabel 4.  Secara keseluruhan, jumlah sighting dan jumlah individu yang ditemukan pada tiap selang waktu memiliki nilai yang berbeda-beda.  Berdasarakan jumlah sighting, selang waktu antara pukul 10:55-12:10 merupakan selang waktu dengan jumlah sighting terbanyak, yaitu 19 kali.  Selang waktu 17:35-18:50 merupakan selang waktu dengan jumlah sighting paling sedikit, yaitu hanya satu kali.  Tetapi untuk jumlah individu, nilai yang terbanyak terdapat pada selang waktu 08:15-09:30 dengan jumlah individu sebanyak 398 ind.  Selang waktu antara pukul 17:35-18:50 adalah selang waktu yang memiliki jumlah individu paling sedikit, yaitu 10 ind.

 

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

 

Komposisi persen jumlah individu cetacean yang ditemukan tiap selang waktu dapat dilihat pada Gambar 7.  Spesies yang hampir selalu ditemukan di semua selang waktu adalah Long-snouted Spinner Dolphin.  Spesies ini ditemukan dari pagi sampai sore hari, kecuali pada selang waktu antara pukul 13:35-14:50.  Berbeda dengan Bottlenose Dolphin dan Fraser’s Dolphin yang ditemukan pada pagi dan siang hari serta Pantropical Spotted Dolphin yang hanya ditemukan pada pagi hari.

Estimasi kepadatan (densitas) dan jumlah cetacean

Tabel 5.  Perkiraan nilai kepadatan dan populasi cetacean pada daerah penelitian

Nama Spesies

Densitas/D

(ind/km2)

Jumlah/N

(ind)

Long-snouted Spinner Dolphin danPantropical Spotted Dolphin

0,25751

103

Bottlenose Dolphin

0,00839

3

Fraser’s Dolphin

0,03099

12

Short-finned Pilot Whale

0,06592

24

False Killer Whale

0,06444

26

Pygmy Killer Whale

0,06294

25

Sperm Whale

0,01273

5

Tabel  5 memperlihatkan bahwa hasil yang paling baik adalah kepadatan (D) dan jumlah (N) untuk genus Stenella (Long-snouted Spinner Dolphin dan Pantropical Spotted Dolphin).  Hasil tersebut menunjukkan bahwa kepadatan Stenella di wilayah penelitian adalah 0,25751 ind/km2  dan estimasi jumlah genus tersebut pada daerah pengamatan seluas 400,22 km2 adalah 103 ind.  Hasil yang paling kecil adalah kepadatan untuk Bottlenose Dolphin, yaitu sebesar 0,00839 ind/km2 dengan estimasi jumlah hanya 3 ind yang terdapat di daerah penelitian.  Dapat disimpulkan bahwa tidak ada cetacean yang dapat ditemukan pada perairan seluas 1 km2. Dengan kata lain, cetacean baru dapat ditemukan pada perairan yang memiliki luas >1 km2, sehingga dapat dikatakan bahwa karena luas daerah pengamatan terbatas maka jumlah spesies yang teramati juga tidak banyak.

Hubungan sebaran cetacean dengan parameter perairan

Pada dasarnya, tidak ada hubungan langsung antara suhu dan salinitas (secara lokal) di perairan dengan cetacean, karena mereka adalah mamalia yang tergolong dapat beradaptasi dengan lingkungannya dengan baik.  cetacean banyak ditemukan pada rata-rata tinggi gelombang 1,0-1,2 m.  Kisaran tersebut lebih rendah daripada kisaran-kisaran yang ada di bagian lain Perairan Laut Sawu.  Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa cetacean banyak ditemukan pada Skala Beaufort 3-4 dimana kisaran tinggi gelombangnya adalah 0,6-1,5 m, yaitu sebanyak 41 dari 76 kali sighting.  Berdasarkan arus yang melewati Laut Sawu yang mengalir dari Selat Sumba menuju ke Samudera Hindia bagian selatan, sangat memungkinkan bagi ikan-ikan di perairan tersebut juga berenang mengikuti arah arus tersebut, sehingga penyebarannya di Perairan Laut Sawu tersebut juga dapat meluas. sebaran cetaceancetacean paling banyak ditemukan pada perairan terbuka (offshore), antara lain pada kedalaman sekitar 500-3000 m.  Spesies-spesies yang ditemukan pada perairan terbuka (offshore) adalah Sperm wahale, Pygmy Killer Whale, False Killer Whale, Pantropical Spotted Dolphin, dan Fraser’s Dolphin. , dapat diketahui bahwa cetacean paling banyak ditemukan pada perairan terbuka (offshore), antara lain pada kedalaman sekitar 500-3000 m.  Spesies-spesies yang ditemukan pada perairan terbuka (offshore) adalah Sperm wahale, Pygmy Killer Whale, False Killer Whale, Pantropical Spotted Dolphin, dan Fraser’s Dolphin.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian di Perairan Laut Sawu yang dilaksanakan pada Tanggal 27-30 Desember 2005 terdapat 76 sighting (1669 ind) dengan 8 spesies yang berhasil diidentifikasi, yaitu mencakup 57,7% dari 14 spesies cetacean Subordo Odontoceti yang ditemukan pada survei-survei sebelumnya (1979-1995) di Laut Sawu.  Penyebaran cetacean di Perairan Laut Sawu tidak merata, karena cetacean paling banyak ditemukan pada Sektor 2 (41 sighting, 886 ind, 7 spesies) dan paling sedikit ditemukan pada Sektor 1 (1 sighting, 182 ind, 1 spesies).  Bagi cetacean, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kedalaman perairan, ketersediaan makanan, keadaan cuaca, dan permukaan perairan yang berbeda pada setiap sektor pengamatan.  Selain itu, faktor internal juga sangat mempengaruhi keberadaan cetacean, yaitu aktivitas migrasi untuk memenuhi kebutuhan reproduksi, mencari makanan, dan membesarkan anak.

Cetacean paling sering ditemukan pada pagi hari, antara pukul 07:00- 10:50 dengan individu sebanyak 845 ekor, karena pada pagi hari cetacean melakukan kegiatan mencari makan.  Spesies yang paling banyak dan sering ditemukan adalah Long-snouted Spinner Dolphin, yaitu sebanyak 994 ind dengan 24 sighting dan dapat ditemukan pada semua kondisi permukaan laut (Skala 1-4) dari pagi sampai sore hari.  Oleh karena itu, spesies tersebut dapat dikatakan memiliki relung (niche) ekologi yang lebih luas dibandingkan spesies lainnya.

Kepadatan populasi terbesar adalah pada genus Stenella (Long-snouted Spinner Dolphin dan Pantropical Spotted Dolphin), yaitu 0,25751 ind/km2  (±103 ind untuk luas daerah 400,22 km2).  Untuk perairan lokal, parameter suhu dan salinitas pada umumnya tidak berhubungan secara langsung dengan cetacean melainkan lebih mempengaruhi keberadaan mangsanya, karena yang mempengaruhi secara langsung adalah suhu dan salinitas secara global.  Yang cukup mempengaruhi secara langsung adalah arus dan kedalaman, masing-masing berkaitan dengan arah berenang dan penyelaman mereka.

Cetacean lebih banyak ditemukan pada saat Musim Barat (hujan) dibandingkan saat Musim Timur (kemarau).  Hal ini disebabkan oleh waktu mereka untuk melakukan kegiatan breeding (April-September) di sekitar daerah ekuator bagian selatan mendekati waktu Musim Barat.  Perairan Selat Pantar juga dapat dikatakan merupakan salah satu koridor migrasi bagi cetacean, khususnya Subordo Odontoceti, dan habitat bagi Long-snouted Spinner Dolphin.

Saran

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar mengambil juga sampel parameter-parameter di perairan yang mungkin mendukung keberadaan cetacean (seperti parameter oseanografi perairan, kelimpahan makanan cetacean, dan lain-lain).  Sebaiknya penelitian dilakukan secara kontinyu (mewakili tiap musim dalam setahun) pada lokasi yang sama agar hasilnya dapat dibandingkan, sehingga keberadaan cetacean dapat dikaji lebih dalam.  Waktu penelitian juga sebaiknya tidak dilakukan dalam waktu yang singkat (minimal 1 bulan), agar hasilnya baik dan dapat mewakili luas daerah penelitian.

Tingkah laku cetacean di dalam perairan juga dapat dikaji lebih dalam dengan menggunakan alat akustik ataupun secara langsung menyelam ke perairan (tidak hanya secara visual di atas perairan), sehingga dapat diketahui lebih pasti apa penyebab mereka berada di suatu perairan.

Penelitian selanjutnya juga dapat memfokuskan pada spesies tertentu yang sudah dapat diperkirakan berhabitat di Perairan Laut Sawu, seperti Long-snouted Spinner Dolphin, sehingga hasil dan pembahasannya akan lebih spesifik, detil, dan maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Buckland, S. T., et al.  2001.  Introduction to distance sampling:  Estimating abundance of biological populations.  Oxford University Press, Inc.  New York, NY.  xv + 432 h.

Carwardine, M.  1995.  Smithsonian handbooks:  Whales, dolphins, and porpoises.  Dorling Kindersley Publishing, Inc.  New York, NY.  256 h.

Jefferson T. A., S. Leatherwood, dan M. A. Webber.  1993.  FAO species identification guide:  Marine mammals of the world.  Food and Agriculture Organization of the United Nations.  Rome, Italy. vii + 320 h.

Mead, J. G. dan J. P. Gold.  2002.  The smithsonian answer book:  Whales and dolphins in question.  Smithsonian Institution Press.  Washington, D.C.  xvi + 200 h.

Meteorology and Oceanography.  2003.  Mean wave height.  http://www.metoc.gov.au/website/wave/viewer.htm.[1 Oktober 2006].

Pusat Riset Perikanan Tangkap.  2005.  Laporan riset inventarisasi mamalia air di Indonesia (Survei Kupang-Alor-Maumere).  Laporan (tidak dipublikasikan).  Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan.  Jakarta, Indonesia.  19 h.

Rudolph, P., C. Smeenk, dan S. Leatherwood.  1997.  Preliminary checklist of Cetacea in the Indonesian Archipelago and adjacent waters.  Zool. Verh. Leiden 312.  12(30): 1-48.

Penulis

Penyebaran Cetacean, Laut Sawu

Febrina Syahria, S.pi, dilahirkan pada tanggal 26 Februari 1985, bertempat tinggal di kota Jakarta dan telah menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Institut Pertanian Bogor Program Studi Ilmu Kelautan.