Anda Berada Di Biologi Kelautan Ekologi Laut Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah

PENDAHULUAN

Terumbu karang memiliki peranan penting di laut, selain sebagai pelindung pantai dari abrasi akibat gempuran arus dan ombak, ekosistem terumbu karang juga memiliki fungsi ekologi yakni sebagai habitat biota, feeding ground (mencari makanan), spawning (pemijahan), nursery ground (wilayah perkembangbiakan) berbagai jenis organisme laut seperti ikan, krustasea, moluska, echinodermata, polikhaeta, dan biota lain yang hidup di sekitar terumbu karang tersebut.
Persentase penutupan terumbu karang di Kepulauan Togean saat ini mengalami kecenderungan penurunan. Penurunan tersebut selain karena faktor alami, namun lebih banyak di sebabkan oleh kegiatan anthropogenic (CII, 2004).
Penurunan persentase penutupan terumbu karang dapat menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem terumbu karang itu sendiri (Supriharyono, 2000). Terumbu karang yang semula menjadi habitat biota, feeding ground, spawning ground serta nursery ground bagi macam-macam organisme, menjadi kehilangan fungsi- fungsi ekologisnya sehingga produktifitas di perairan tersebutpun akan terganggu. Untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di Kepulauan Togean, maka perlu pemantauan/ penelitian terhadap ekosistem terumbu karang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya METODOLOGI

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24-29 April 2007 bertempat di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah.


Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan antara lain peralatan scuba diving, thermometer, refraktometer, floating drough, seichi disk, kertas lakmus, roll meter, dan alat tulis bawah air, global positioning system, kapal dan kamera bawah air.

Metode

Metode yang digunakan untuk menghitung persentase habitat dasar perairan adalah transek garis menyinggung (Line Intercept Transect) (English, et al 1994), sedangkan untuk menghitung kelimpahan ikan karang menggunakan metode sensus visual. Transek di bentangkan sejajar garis pantai pada kedalaman tertentu sepanjang 50 meter pada stasiun pengamatan. Pengamatan karang penyusun habitat dasar yang menyentuh roll meter didasarkan pada lifeform karang disertai dengan keterangan genus karang. Pada pengamatan ikan karang, pengamat menghitung/ mengestimasi jumlah ikan yang melewati transek, jarak pandang pengamat adalah 2,5 meter ke kiri dan ke kanan.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kondisi oseanografi perairan

Tabel 1. Hasil Pengukuran parameter oseanografi pada stasiun pengamatan.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Parameter- parameter fisik dan kimia perairan yang diperoleh dari hasil pengukuran, rata-rata dalam kisaran yang optimal dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan ekosistem terumbu karang di Kepulauan Togean.

Persen penutupan komponen penyusun habitat dasar perairan

Komponen  penyusun habitat dasar dibagi dalam beberapa kelompok komponen antara lain adalah Hard Coral (HC), Soft Coral (SC), Sponge (SP), Others Fauna (OT), Patahan karang (Rubble), Dead Coral (DC)/ Dead Coral with Algae (DCA) dan komponen abiotik.


Tabel 2. Persen penutupan habitat dasar perairan (%)

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Nilai persentase penutupan rata-rata terumbu karang di Kepulauan Togean berada dalam kategori kondisi sedang sampai dengan baik. Persentase penutupan terkecil terdapat pada stasiun Mini Canyon yakni sebesar 32,78%, walaupun stasiun ini memiliki nilai persentase penutupan yang terkecil namun berada dalam kategori kondisi sedang (Gomez dan Yap,1988). Pada stasiun Mini Canyon ini, tingkat karang mati juga cukup tinggi terbukti pada saat pengamatan banyak ditemukan karang yang telah mati dan telah ditumbuhi alga.

Indeks mortalitas karang

Indeks mortalitas karang yang mendekati nol menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti bagi karang hidup, sedangkan nilai yang mendekati satu menunjukkan bahwa terjadi perubahan berarti dari dari karang hidup menjadi karang mati.

 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Gambar 1. Indeks mortalitas karangTingkat kematian karang terendah terdapat di stasiun Coral garden (0,141), dan tertinggi pada stasiun Katupat (0,551) dan stasiun Mini Canyon (0,536). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan karang hidup menjadi karang mati cukup signifikan di stasiun Katupat dan Mini canyon.
Kelimpahan genera karang

 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Gambar 2. Kelimpahan genera karangKelimpahan genera karang di beberapa stasiun pengamatan cukup beragam, ditemukan sebanyak 38 genera dari 15 famili. Penyebaran jenis karang porites dan pocillopora lebih banyak, di setiap stasiun pengamatan ditemukan jenis ini.

Kelimpahan dan Struktur Komunitas ikan karang

Selama pengamatan dari 9 titik pengamatan tercatat 307 spesies ikan yang tergolong ke dalam 42 famili. Kelimpahan ikan karang berkisar antara 1,632 ind/m2 sampai dengan 5,496 ind/m2. Kelimpahan tertinggi ikan karang terdapat pada stasiun Atoll dan Coral garden. Kedua stasiun ini pun memiliki persentase penutupan terumbu yang tinggi pula.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean
Tabel 3. Kelimpahan dan struktur komunitas ikan karang 
Dari nilai indeks keanekaragaman dan  indeks keseragaman yang cukup tinggi, secara umum komunitas ikan karang termasuk dalam kategori baik dan stabil. Semakin besar besar indeks keanekaragaman dan keseragaman menunjukkan bahwa pada perairan tersebut memiliki penyebaran jumlah individu tiap spesies dan kestabilan komunitas yang stabil. Indeks dominansi dalam kisaran 0,054-0,089. Nilai ini tergolong rendah dan menunujukkan kondisi perairan yang relatif stabil sehingga tidak terjadi tekanan ekologis terhadap spesies lainnya.

Komposisi kelompok ikan

Jumlah ikan indikator yang ditemukan sebanyak 30 spesies yang semuanya berasal dari famili Chaetodontidae. Spesies ikan indikator tersebut ditemulan baik secara soliter maupun berkelompok yang hidup memangsa polyp karang maupun invertebrate lainnya yang berada disekitar terumbu karang.
Tabel 4. Komposisi kelompok ikan

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean
Ikan target ditemukan sebanyak 140 spesies yang berasal dari family Achanturidae, Caesionidae, Haemulidae, Serranidae, Lutjanidae dan Siganidae. Ikan Target merupakan jenis ikan konsumsi yang menjadi target penangkapan nelayan setempat, kelompok ikan ini mendominasi dua kelompok lainnya. Keberadaan ikan target di ekosistem terumbu karang adalah untuk mencari makan, pemijahan dan pembesaran anak. Ikan mayor merupakan ikan yang tidak termasuk kedalam dua kelompok diatas. Jumlah ikan Mayor ditemukan sebanyak 137 spesies yang dominan berasal dari famili Pomacentridae. Keberadaan ikan ini adalah sebagai salah satu mata rantai dalam sistem ekologi dan jaring makanan di ekosistem terumbu karang.

 

Persentase tipe pemangsaan ikan karang

Ikan karang juga dapat digolongkan berdasarkan tipe pemangsaannya yaitu ikan karnivora, herbivora, omnivora dan planktivora.

Tabel 5. Tipe pemangsaan ikan karang

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Dari tabel diatas terlihat bahwa umumnya di Kepulauan Togean bersifat karnivora sebesar 45% dan planktivora sebesar 29%. Umumnya ikan karnivora tersebut termasuk dalam famili labridae, haemulidae, serranidae, lutjanidae, scorpaenidae, lethrinidae,nemipteridae, carangidae. Ikan planktivora yang sering ditemukan adalah semua genus Myripristis dari famili holocentridae dan spesies Pterecaesio tile, caesio cuning dan caesio teres dari famili caesionidae.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kepulauan Togean memiliki persentase penutupan karang yang tinggi, terlihat dari besarnya nilai persentase penutupan karang keras yang diamati. Dari beberapa stasiun yang diamati, persentase penutupan karang keras berada dalam kisaran nilai 32,78-74,74%. Nilai ini menunjukkan terumbu karang dalam kondisi dalam kategori sedang sampai dengan bagus.

Tingkat kematian karang jika dilihat dari nilai indeks mortalitas karang, yang paling tinggi adalah Mini Canyon dan stasiun Katupat. Nilai indeks mortalitas karang terendah terdapat pada stasiun Coral Garden, stasiun ini memiliki persentase karang keras yang paling tinggi diantara stasiun pengamatan lainnya.

Jumlah genus karang yang ditemukan sebanyak 38 genus dari 15 famili yang sudah dikelompokkan. Koloni karang bervariasi, namun koloni massive (CM) dari genus porites dan koloni Coral Branching (CB) dari genus pocillopora paling sering ditemukan.

Selama Pengamatan dilakukan tercatat 307 spesies ikan yang tergolong dalam 42 famili dari 9 titik pengamtan. Kelimpahan ikan karang berkisar antara 1,632 ind/m2 sampai dengan 5,496 ind/m2. Kelimpahan tertinggi ikan terdapat pada stasiun Atoll, utara Pulau Malenge dan stasiun Coral Garden di utara Pulau Togean.

Indeks keanekaragaman pada ke-9 stasiun yang diamati berkisar antara 2,624- 3,503. Indeks keseragaman berkisar antara 0,674-0,852. Indeks dominansi dalam kisaran 0,054-0,089. Semakin besar indeks keanekaragaman dan keseragaman menunjukkan bahwa pada stasiun tersebut memiliki penyebaran jumlah individu tiap spesies dan kestabilan komunitas yang tinggi. Nilai ini tergolong rendah dan menunjukkan kondisi perairan yang relatif stabil sehingga tidak terjadi tekanan ekologis terhadap spesies lainnya.

Saran

Perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat kandungan nutrien perairan seperti nitrat, nitrit, fosfat dan lainnya dalam keterkaitannya dengan baik buruknya kualitas kimia perairan di daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

CII. 2004. Konservasi berbasis masyarakat melalui daerah perlindungan laut di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah. Palu. h. 1-10.

English, S., C. Wilkinson dan V. Baker. 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institut of Marine Sciene. Townsville. h. 5-51.

Supriharyono, 2000. Pengelolaan ekosistem terumbu karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. h 2-10.

 

Penulis

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang, Kepulauan Togean

Livson Zulkah, S. Pi. Kelahiran 2 Desember 1983 dan sekarang berdomisili di Lhokseumawe. Alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB.