Sekilas Artikel :
Anda Berada Di Biologi Kelautan Ekologi Laut Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar, Kabupaten Belitung Timur.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar, Kabupaten Belitung Timur.

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar, Kabupaten Belitung Timur.

PENDAHULUAN

Latar belakang

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem yang penting di perairan pesisir karena sebagai tempat memijah, mengasuh, dan mencari makan bagi berbagai organisme, pelindung pantai dari abrasi, dan sumber bahan makanan dan obat-obatan bagi masyarakat pesisir.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Puslit Oseanologi-LIPI menyatakan bahwa hampir 43 % terumbu karang di Indonesia sudah rusak berat, sedangkan yang masih dalam keadaan baik hanya sekitar 6,5% (Moosa dan Suharsono, 1997).

Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung merupakan wilayah maritim dan kepulauan yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang cukup banyak.  Wilayah ini terletak pada 2º 30’ - 3º 15’ LS dan 107º 35’ - 108º 18’ BT dengan luas wilayah daratan 4.800 km2, laut 29.606 km2, pesisir 1.900 km2, garis pantai sepanjang 195 km dan pulau kecil sebanyak 189 buah, diantaranya Pulau Memperak dan Pulau Sekepar.

Informasi mengenai kondisi penutupan terumbu karang diharapkan dapat menggambarkan kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan ini yang berguna untuk pengelolaan secara tepat, sehingga kelestarian serta fungsi-fungsi ekosistem terumbu karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar dapat terus berlanjut.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar, Kabupaten Belitung Timur.

METODE PENELITIAN

Waktu dan tempat penelitian

Lokasi penilitian ini dilaksanakan di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar, Kabupaten Belitung Timur, Propinsi Bangka-Belitung.  Pengambilan data dilaksanakan pada 2 – 4 Desember 2006 bersamaan dengan proyek P2O-LIPI dalam rangka Program Kompetitif Kaltim-Babel.

Penelitian ini menggunakan metode transek garis menyinggung (LIT) untuk mengambil data karang dan metode sensus visual untuk data ikan karang di kedalaman 5 m.  Analisis data karang menggunakan persen penutupan, dan indeks mortalitas karang keras (HC).  Analisis data ikan karang menggunakan kepadatan ikan, indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (C).

Alat dan bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah peralatan selam SCUBA, roll meter, sabak, pensil, refraktometer, GPS, seichi disk, floating droudge, kamera bawah air dan kapal.  Data suhu dari P2O-LIPI yang diambil pada Bulan Oktober 2006.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi perairan

Berdasarkan pengamatan, tingkat kecerahan perairan 100%.  Salinitas permukaan perairan berkisar antara 29,83 – 31,67‰.  Menurut Dahuri et al. (2004), umumnya terumbu karang tumbuh baik di sekitar wilayah pesisir pada salinitas 30 – 35‰.  Suhu perairan berkisar 28,92 – 29,92 ºC.  Nontji (1987) mengatakan bahwa suhu optimal yang dibutuhkan untuk terumbu karang berkisar 25 – 30 ºC.  Kecepatan arus permukaan berkisar antara 0,06 – 0,64 m/det.

Persentase penutupan substrat dasar

Tipe terumbu karang di Pulau Memperak dan Pulau Sekepar merupakan terumbu karang tepi (fringing reef).  Hal ini ditandai dengan adanya karang yang tumbuh mulai dari tepian pantai dan tidak dipisahkan oleh gobah besar yang membentuk paparan terumbu (reef flat) dengan substrat dasar perairan berupa pasir putih yang halus.

Persentase penutupan substrat dasar di seluruh stasiun pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1.  Berdasarkan kategori Gomez dan Yap (1988), kondisi karang keras pada lokasi pengamatan termasuk dalam kategori buruk sampai sangat baik.

Tabel 1.  Komposisi penutupan substrat dasar di stasiun pengamatan (%).

Stasiun

HC

DCA

SC

Alga

OT

Abiotik

Utara P. Memperak

75,40

17,33

-

0,60

1,63

5,03

Selatan P. Memperak

9,97

18,57

0,50

2,63

4,73

63,60

Timur P. Sekepar

84,40

11,53

0,37

1,87

0,57

1,27

Barat P. Sekepar

60,63

26,73

-

-

0,87

0,77

Persentase penutupan karang keras (HC) di daerah ini berdasarkan kategori Gomez dan Yap (1988) masuk kedalam kategori sangat baik yaitu bernilai 75,40%.  Hal ini diduga tidak adanya pengaruh yang nyata dari kegitan manusia (anthropogenic factor) yang dapat mengganggu ekosistem terumbu karang, sehingga daerah ini memiliki kondisi sangat baik.

Persentase penutupan karang keras (HC) di daerah ini berdasarkan kategori Gomez dan Yap (1988) masuk dalam kategori buruk (9,97%).  Hal ini diduga akibat akibat tingginya persentase alga dan abiotik seperti  patahan karang dan substrat pasir putih halus yang menyebabkan kurang tersedianya substrat yang cocok untuk penempelan larva karang.

Persentase penutupan karang keras (HC) di daerah ini masuk kedalam kategori sangat baik dan merupakan yang paling baik dari semua stasiun pengamatan.  Persentase penutupan karang keras (HC) di daerah ini sebesar 84,40%.  Hal ini diduga karena sedikitnya pengaruh dari dampak kegiatan perikanan dan aktifitas manusia yang merusak terumbu karang.

Persentase penutupan karang di daerah ini tergolong baik berdasarkan kategori Gomez dan Yap (1988) yaitu sebesar 60,63%.

Indeks Mortalitas karang keras

Berdasarkan hasil pengamatan, indeks kematian karang (IMK) di seluruh stasiun pengamatan berkisar 0,13 – 0,86.  Indeks mortalitas karang keras (HC) tertinggi terdapat di Selatan Pulau Memperak yaitu sebesar 0,86.  Sedangkan yang terkecil terdapat Timur Pulau Sekepar sebesar 0,13.  Nilai indeks kematian yang mendekati nol menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti bagi karang hidup.

 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang,Pulau Memperak

Gambar 1.  Histogram indeks mortalitas karang keras di stasiun pengamatan

Proporsi kemunculan karang keras

Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah genus karang keras di kedalaman 5 m di semua stasiun ditemukan 20 genus karang keras (HC) yaitu: Acropora, Ctenactis, Cypastrea, Echinopora, Euphyllia, Favia, Fungia, Galaxea, Heliofungia, Hydnophora, Lobophyllia, Merulina,  Montipora, Pachyseris, Pavona, Pectinia, Physogyra, Porites, Stylopora dan Turbinaria.  Jumlah genus yang paling banyak ditemukan yaitu di Timur dan Barat Pulau Sekepar yaitu sebanyak 14 genus, 11 genus di Utara Pulau Memperak, sedangkan yang paling sedikit ditemukan sebanyak 6 genus yaitu di Selatan Pulau Memperak.

 

 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang,Pulau Memperak

Gambar 2.  Histogram proporsi kemunculan karang keras (HC).

Kondisi komunitas ikan karang

Kelimpahan ikan di stasiun pengamatan berkisar antara 2,28 – 0,94 ind/m2 (Tabel 2).  Berdasarkan hasil pengamatan di Utara dan Selatan Pulau Memperak, kelompok famili yang memiliki persentase komposisi terbesar adalah Pomacentridae.  Famili yang memiliki komposisi terbesar kedua adalah famili Labridae.  Menurut Sale (1991), kebanyakan famili dari Pomacentridae dan Labridae merupakan ikan karnivora yang memakan berbagai macam invertebrata kecil.

Tabel 2.  Jumlah famili, genus, spesies, individu, dan kelimpahan

Stasiun

Jumlah Famili

Jumlah Genus

Jumlah   Spesies

Jumlah Individu

Ind/m2

Utara P. Memperak

8

23

43

335

0,96

Selatan P. Memperak

8

24

46

539

1,54

Timur P. Sekepar

11

25

43

329

0,94

Barat P. Sekepar

12

30

52

797

2,28

Famili Pomacentridae di Timur dan Barat Pulau Sekepar juga merupakan yang terbesar.  Famili Chaetodontidae merupakan yang terbesar kedua di Timur Pulau Sekepar.  Jenis Chaetodon octofasciatus banyak ditemukan di daerah ini dibandingkan di Pulau Memperak.  Jenis ini termasuk kedalam kelompok obligatif pemakan karang yang bisa dijadikan indikator kesehatan ekosistem terumbu karang.

Struktur komunitas ikan karang

Indeks keanekaragaman pada keempat stasiun berkisar antara 2,860 – 3,306.  Indeks keseragaman berkisar antara 0,724 – 0,879.  Semakin besar indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman menunjukkan bahwa pada stasiun tersebut memiliki penyebaran jumlah individu tiap spesies dan kestabilan komunitas yang tinggi.

 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang,Pulau Memperak

Gambar 3.  Histogram struktur komunitas ikan karang.

Kisaran Indeks dominansi pada keempat stasiun berkisar antara 0.051 – 0,1.  Nilai ini tergolong rendah karena mendekati 0.  Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan, dalam keadaan stabil, dan tidak terjadi tekanan ekologis terhadap spesies lainnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kondisi ekosistem terumbu karang berdasarkan persentase penutupan karang keras (HC) berkisar dari kodisi buruk sampai sangat baik.  Terdapat dua lokasi pengamatan dengan kategori sangat baik yaitu di Utara Pulau Memperak dan Timur Pulau Sekepar, kategori baik di Barat Pulau Sekepar, dan kategori buruk di Selatan Pulau Memperak.  Indeks mortalitas karang keras (HC) tertinggi terdapat di Selatan Pulau Memperak, sedangkan yang terkecil terdapat Timur Pulau Sekepar.  Jumlah genus karang keras yang ditemukan di seluruh stasiun pengamatan sebanyak 20 genus. Proporsi kemunculan genus karang keras tertinggi terdapat di  Barat dan Timur Pulau Sekepar, sedangkan yang terendah terdapat di Selatan Pulau Memperak.

Ikan karang yang ditemukan seluruh stasiun pengamatan terdiri dari 13 famili dan 85 jenis ikan.  Kelimpahan ikan tertinggi terdapat di Barat Pulau Sekepar.  Utara Pulau Memperak memiliki nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman yang tertinggi, sedangkan yang terendah terdapat di Barat Pulau Sekepar.  Indeks dominansi terendah terdapat di stasiun Utara Pulau Memperak, sedangkan yang tertinggi terdapat di Barat Pulau Sekepar.

Saran

Pengambilan data dengan menggunakan LIT ditambah dengan  metode lain seperti permanen transek kuadrat dapat menggambarkan persentase penutupan karang yang lebih baik secara berkala (time series).

DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting dan M. J. Sitepu.  2004.  Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Laut.  Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor.

Gomez, E. D. dan H. T. Yap, 1988. Monitoring Reef Conditions. In : Kenchington, R. A and B. E. T. Hudson (eds).  h. 187 – 196.  Coral Reef Management Handbook. UNESCO Regional Office for Science and Technology for South-East Asia.  Jakarta.

Moosa, M.  K.  dan Suharsono.  1997.  Rehabilitasi dan Pengelolaan Lestari.  H.  189 – 200.  in D.  Soedharma, S.  Soemodiharjo, K.  Romimohtarto, O.  S.  R.  Ongkosongo, dan Suhardjono (ed.), Prosidings Seminar Nasional Pengelolaan Terumbu Karang, 10 – 12 Oktober 1995, Jakarta, Indonesia.  Panitia Program MAB Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Nontji. A.  1987.  Laut Nusantara.  Penerbit Djambatan.  Jakarta.

Sale, P. F. 1991. The Ecology of Fishes on Coral Reef. Academic Press. San Diego

Penulis

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang,Pulau Memperak

Agung Prasetya Siregar, lahir di Kuala Simpang 29 Desember 1984. Alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB. Staf di lembaga Marine Science and Technology Course.

Email :Kondisi Ekosistem Terumbu Karang,Pulau Memperak